
KUBU RAYA – Pemerintah Kabupaten Kubu Raya secara resmi menetapkan status siaga darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul terdeteksinya sejumlah titik api di beberapa wilayah.
Status ini mulai diberlakukan sejak 14 Januari 2026 dan akan berlangsung selama 14 hari ke depan sebagai respons cepat terhadap potensi bencana asap.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kubu Raya, Herry Purwoko, mengungkapkan bahwa saat ini titik api terpantau menyebar di tiga kecamatan utama.
“Memang sudah ada beberapa titik api yang terjadi di Kabupaten Kubu Raya. Untuk sementara ini kita pantau berada di tiga kecamatan, yakni Sungai Kakap, Rasau Jaya, dan Sungai Raya,” ujar Herry saat meninjau lokasi kebakaran di Komplek Miari Residence 14, Jumat (18/01/2026).
Upaya pemadaman di lapangan menghadapi tantangan berat karena karakteristik geografis wilayah Kubu Raya yang didominasi oleh lahan gambut.
Herry menjelaskan bahwa sekitar 70 hingga 80 persen wilayah kabupaten tersebut merupakan lahan gambut yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan saat musim kering.
Kondisi ini diperparah dengan minimnya sumber air di sekitar lokasi serta tiupan angin kencang yang membuat api cepat merambat ke area yang lebih luas.
“Kita agak kesulitan air, dan angin cukup kencang sehingga api mudah merambat,” jelasnya mengenai kendala teknis yang dihadapi tim di lapangan.
Situasi semakin mengkhawatirkan karena kebakaran di beberapa titik dilaporkan telah mendekati area permukiman warga, sehingga memerlukan penanganan prioritas.
Menyikapi kondisi ini, BPBD Kubu Raya mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh masyarakat untuk menghentikan aktivitas pembakaran lahan dalam bentuk apa pun.
Partisipasi aktif warga dinilai sangat krusial untuk mencegah meluasnya titik api yang dapat mengancam keselamatan jiwa dan harta benda.
“Kami harapkan seluruh masyarakat Kabupaten Kubu Raya untuk menahan diri dan tidak melakukan pembakaran, karena dampaknya bisa merambat ke pemukiman penduduk seperti yang terjadi sekarang,” tegas Herry mengingatkan.
Dalam operasi penanggulangan karhutla ini, BPBD tidak bekerja sendiri melainkan berkolaborasi dengan berbagai instansi terkait seperti TNI, Polri, Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), serta kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA).
Pembagian tugas dilakukan secara strategis, di mana KPH dan Manggala Agni fokus di wilayah Kuala Dua dan Rasau Jaya, sedangkan relawan swasta membantu di Sungai Raya Dalam dan Punggur Kecil.
Herry juga menyoroti kesulitan akses menuju titik api di lokasi terpencil seperti Parit Buloh yang membutuhkan upaya ekstra dari petugas.
“Di lokasi seperti Parit Buloh itu aksesnya cukup sulit. Kemarin saja dibutuhkan 18 sambungan selang, satu sambung sekitar 20 meter,” ungkapnya menggambarkan beratnya medan operasi.
Laporan: Severinus | Editor: Michael