Ambisi Gagal LB Moerdani untuk Menjadi Wapres Soeharto

pranusa.id November 2, 2022

FOTO: Jenderal LB Moerdani.

SOSOK– Jenderal LB Moerdani adalah salah satu tokoh militer paling berpengaruh pada era Orde Baru. Moerdani ikut dalam operasi militer penanganan pembajakan pesawat Garuda Indonesia pada 28 Maret 1981. Moerdani sempat menjabat sebagai Panglima TNI pada tahun 1983 dan Menteri Pertahanan pada 1988.

 

Salah satu kisah menarik dari LB Moerdani adalah menjelang Sidang Umum MPR Maret 1988, beredar kabar bahwa dirinya sangat ingin mendampingi Soeharto sebagai Wakil Presiden (Wapres).

Untuk memuluskan maksud ini, Jenderal Benny Moerdani, sebagai Panglima ABRI, menyusun berbagai rencana.

“Salah satu strateginya adalah menjadikan Fraksi ABRI di MPR sebagai lokomotif pencalonan dirinya,” seperti dikutip dari buku Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen, Konflik dan Integrasi TNI AD halaman 73, Senin (3/10/2022).

Rencana Jenderal Benny Moerdani untuk menjadi Wapres tercium dan berhasil digagalkan oleh Soeharto. Pada 24 Februari 1988, sebelum Sidang MPR digelar, Soeharto melakukan pergantian Panglima ABRI dari Jenderal Benny Moerdani kepada Jenderal Try Sutrisno.

Pergantian ini menyebabkan dukungan terhadap Jenderal Benny Moerdani berkurang dan akhirnya ia gagal menjadi Wapres.

Jika tidak diganti, Jenderal Benny Moerdani sebagai Panglima ABRI dapat memaksa Letjen Bambang Triantoro, Ketua Fraksi ABRI di MPR, untuk mengajukan namanya sebagai Cawapres.

Namun rencana itu tidak berhasil dan Soeharto mengangkat Sudharmono menjadi Wapres. Nuansa kenginan Jenderal Benny Moerdani menjadi Wapres dapat dibaca pada Memoar Sudharmono.

Benny tidak setuju pada Sudharmono dan tersirat keinginannya menjadi Wapres. Seperti diketahui, jabatan Pangkopkamtib dan Kepala BAIS tidak diserahterimakan oleh Jenderal Benny kepada Jenderal Try Sutrisno pada tahun 1988.

Jenderal Try Sutrisno tidak berani mengambilalihnya. Sehingga, di samping sebagai Menhankam, Jenderal Benny Moerdani masih sering berkantor di Markas BAIS, Tebet, Jakarta dan kegiatan intel Try Sutrisno di bawah kendalinya.

Upaya kelompok Jenderal Benny Moerdani untuk “mengganggu” Sidang Umum MPR 1988, terjadi ketika palu penetapan Sudharmono sebagai Wapres diketuk, tiba-tiba ada interupsi dari Brigjen Ibrahim Saleh yang menyatakan bahwa Sudharmono tidak tepat menjadi Wapres. Sudharmono dianggap karena tidak bersih lingkungan.

Inilah kali pertama Fraksi ABRI melakukan protes terbuka dan menentang Soeharto. Setelah kegagalan di MPR, faksi Jenderal Benny Moerdani melancarkan isu suksesi yang didukung oleh gencarnya Petisi 50, yang terdiri dari mantan jenderal dan menteri, untuk menjatuhkan Soeharto.

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Menkeu Purbaya Siapkan Tambahan Anggaran Daerah, Pengumuman Resmi Menunggu Restu Kepala Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pemerintah pusat telah selesai menghitung kebutuhan tambahan…
Pemerintah Integrasikan Program MBG dan Koperasi Desa untuk Bangun Ekosistem Pangan dari Tingkat Akar Rumput
BLORA, PRANUSA.ID — Pemerintah terus mematangkan langkah integrasi antara Program…
Hadirkan Dandhy Laksono di Perayaan HUT ke-42, GKJ Condong Catur Gelar Diskusi Publik “Reset Indonesia”
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Gereja Kristen Jawa (GKJ) Condong Catur menyelenggarakan…
Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Kenaikan Tukin Juga Sasar Guru, Dosen, dan Nakes di Wilayah 3T
JAKARTA, PRANUSA.ID — Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan…
Tegaskan Komitmen Politik Nonblok, Prabowo: Indonesia Ingin Jadi Tetangga yang Baik bagi Semua Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali menegaskan…