Bupati Aceh Tenggara Dua Kali Pilih Saudara Kandung Pimpin RSUD

pranusa.id January 21, 2021

SK Bupati Aceh Tenggara (Sumber: Agaaranews.com)

Bupati Aceh Tenggara melakukan perombakan dalam jajaran kepemimpinan RSUD H. Sahudin Kutacane. Uniknya, perombakan ini mendapatkan sorotan karena Direktur RSUD H. Sahudin beralih dari sesama saudara kandung Bupati.

Sebagaimana dilansir oleh Agara News, pelantikan Direktur baru digelar pada Rabu (20/1/2021). Terpilih dr. Irfadin Pinim yang sebelumnya merupakan dokter spesialis bedah sebagai pimpinan RSUD yang berada di Kutacane, Ibu Kota Kabupaten Aceh Tenggara tersebut. Ia menggantikan dr. Buhari, Sp. Og yang sebaliknya beralih posisi menjadi dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi di rumah sakit tersebut. Kedua dokter ini diketahui merupakan saudara kandung Raidin Pinim, Bupati Aceh Tenggara.

Pelantikan sendiri dilaksanakan di Kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Aceh Tenggara. Pelantikan dilakukan oleh Masudin Pinim selaku Kepala BKPSDM. Masudin menjelaskan bahwa ia memimpin pelantikan berhubung Raidin berhalangan hadir.

Tak hanya kali ini pelantikan kerabat Bupati menjadi sorotan. Sebelumnya pelantikan H Guntur sebagai Plt Kepala Dinas Pertanian Aceh Tenggara juga menarik perhatian karena hubungan dekatnya dengan Bupati. Guntur diketahui merupakan ipar kandung dari Bupati. Ipar Bupati lainnya yang menjabat yakni Rasid Ependi selaku Kepala Dinas PUPR, dan Zainuddin selaku Kepala Dinas Kesehatan.

Banyaknya kerabat Bupati di lingkaran kekuasaan dinilai sebagai praktik tak sehat. Pegiat LSM Aceh Tenggara pun menilai pelantikan Direktur RSUD yang baru dilaksanakan ini terindikasi KKN. Perombakan pimpinan RSUD disebut hanya merotasi dua adik kandungnya yang bekerja di rumah sakit tersebut.

Gegoh dan Faisal selaku pegiat LSM pun meminta agar Komisi Aparatur Sipil Negara dan Ombudsman Perwakilan Aceh memperhatikan situasi ini.

Bukhari yang menjabat Direktur RSUD H. Sahudin sejak awal 2018 tersebut sebelumnya pada tahun lalu sempat mengajukan pengunduran diri. AJNN menyebut, Bukhari mengundurkan diri karena alasan sakit yang dideritanya beberapa tahun belakangan. Hal ini membuat pihaknya khawatir menjadi kendala dalam memberikan pelayan kepada masyarakat. Pengunduran dirinya sempat membuat jajaran RSUD H. Sahudin yang kala itu dalam proses pengajuan akreditasi gelisah dan meminta Bupati untuk tidak menerima pengunduran diri tersebut.

Bukhari selama ini dinilai berhasil selama memimpin karena banyak berperan dalam pengembangan dan perubahan kualitas layanan. Beberapa pembenahan yang dilakukan di antaranya dengan memberi kemudahan berobat bagi masyarakat, meningkatkan pola makan sehat pasien, menata pedagang di lingkungan rumah sakit serta peningkatan fasilitas pelayanan. Perannya membangun sistem dan manajemen rumah sakit yang baik membuatnya dihormati sesama koleganya dan oleh pihak yang mengetahui perubahan positif di RSUD H. Sahudin tersebut.

 

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Rasmidi: Berita Kalbar Jangan Hanya Muncul di Nasional Saat Ada Kejadian Luar Biasa
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Barat (Kalbar),…
Kawal RUU Penyiaran, KPID Kalbar Dorong Aspirasi Media Masuk Pembahasan
PONTIANAK, PRANUSA.ID– Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran menjadi sorotan dalam Focus…
Jenguk Korban Keracunan MBG di Batang, Wapres Gibran Minta Investigasi Dibuka Transparan
BATANG, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Gibran Rakabuming meminta proses investigasi…
PP PMKRI Desak Kepolisian Buka Penyelidikan Pidana Kasus Fasilitas Mewah Lapas Cibinong
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia…
Kejanggalan 13 Rumah di Lapas Cibinong: Pembangunan Tak Tercatat sebagai Aset Milik Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pembangunan 13 unit rumah di kawasan Lapas…