Wagub Jateng: Kita Kerja Jangan Hanya Memikirkan Pimpinan, Tapi Masyarakat!

pranusa.id November 13, 2021

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. (Foto: Dok. Pemprov Jateng)

PRANUSA.ID — Menjadi pemimpin dituntut mumpuni, mampu ngopeni atau merawat rakyat, serta memberikan pelayanan dengan baik. Pemimpin harus memiliki tanggung jawab terhadap anak buah atau rakyatnya, baik tanggung jawab lahir maupun batin.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, saat membuka seminar online bertajuk ‘Membentuk Pemimpin yang Mumpuni, Ngopeni, lan Ngladeni‘, yang diselenggarakan Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Jawa Tengah,dari ruang kerja wakil gubernur, Kamis (11/11/2021).

Ia menjelaskan, mumpuni (kompeten), ngopeni (merawat), lan nglayani (dan melayani) harus dimiliki semua pemimpin untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mumpuni atau kompetensi yaitu menguasai bidang tugasnya. Tidak hanya menguasai teori tetapi juga cakap, terampil dalam mengaplikasikannya.

“Orang yang mumpuni itu biasanya juga mrantasi, sembada, lan sumbut. Selain itu tidak sekadar omong doang atau omdo, tapi bisa dibuktikan dan mampu memberikan perubahan berarti bagi yang dipimpin, sehingga semakin sejahtera,” terang Gus Yasin, sapaan akrabnya.

Sedangkan ngopeni, imbuh wagub, berarti memelihara, menjaga, mengurus, dan merawat hal-hal yang menjadi bidang tugasnya. Misalnya ketika bercocok tanam atau menjadi tukang kebun, maka harus bisa memelihara kebun dan seisinya agar sayuran dan tanaman tumbuh subur. Sehingga ada kegiatan memberi pupuk, menyiram, dan menyiangi tanaman.

“Menjadi pemimpin itu memiliki tanggung jawab terhadap anak buahnya, baik tanggung jawab lahir maupun batin. Mensejahterakan anak buah itu ora mung lahire nanging batine juga. Ora cuma diberi materi, gaji, ataupun kesejahteraannya, akan tetapi memperhatikan kesehatan jasmani,” kata Gus Yasin.

Ngladeni artinya melayani. Menurutnya, pemimpin itu tugasnya melayani atau memberikan pelayanan yang baik atau cepat, mudah, murah, dan ramah. Karenanya, apabila sudah mendedikasikan diri masuk di pemerintahan, maka sebagai tuannya adalah rakyat, sehingga kepuasan rakyat adalah kebahagiaan pimpinan.

Seorang pemimpin harus memiliki pemikiran, sudah seberapa jauh pekerjaan yang dilakukan memberikan pelayanan dan kepuasan kepada masyarakat. Apakah rakyat masih ada yang menggerutu, masih ada yang sengsara atau tidak, serta kebutuhan-kebutuhan masyarakat lainnya.

“Itulah tugas kita. Kita bekerja jangan hanya memikirkan pimpinan bahagia atau tidak, tetapi apakah masyarakat sudah bahagia atau belum,” bebernya.

Gus Yasin juga menjelaskan, apabila kompetensi, memelihara, dan melayani sudah dilakukan dengan baik, maka pemimpin yang profesional dan melayani tidak hanya dalam ide saja, melainkan sudah pada tataran aplikasi. Terlebih profesionalisme ASN harus ditunjukkan dengan keterampilan dalam melaksanakan pekerjaan, sesuai dengan bidang dan jenjangnya masing-masing.

Profesionalisme ASN mensyaratkan beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan publik. Antara lain budaya organisasi publik, tujuan organisasi, struktur organisasi, tata kerja birokrasi, dan sistem insentif yang dihasilkan dalam proses birokrasi. *(Humas Jateng)

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Warga Ende Desak Aparat Tindak Tegas Distributor Rokok Ilegal
ENDE – Peredaran rokok ilegal tanpa pita cukai dilaporkan semakin…
Kasus Korupsi Dana Desa Melonjak, Kejaksaan Agung Perketat Pengawasan
JAKARTA – Kejaksaan Agung Republik Indonesia menyoroti peningkatan signifikan kasus…
Pemprov NTT Pastikan Tidak Bangun Venue Baru untuk PON 2028
KUPANG – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) memutuskan…
Realisasi Meleset dari Ekspektasi, Menkeu Soroti Hambatan Pemulihan Ekonomi
JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bahwa…
Hadapi Geopolitik Global, Prabowo Minta Kampus Cetak SDM Unggul dan Inovatif
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menekankan peran vital perguruan tinggi…