
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID – Organisasi pergerakan pemuda Social Movement Institute merayakan hari jadinya yang ke-13 dengan menggelar pertunjukan musik bertajuk Bangkitlah Politik Anak Muda di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta pada tanggal 21 Mei.
Perhelatan seni yang mulai digeber sejak pukul 14.00 WIB tersebut diselenggarakan sebagai wadah untuk mengekspresikan keresahan generasi muda terhadap jalannya pemerintahan Indonesia saat ini sekaligus menjadi momentum refleksi perjalanan era Reformasi.
Rangkaian acara yang dipandu secara langsung oleh pembawa acara Nasyila Rose dan Brain Aifkri tersebut turut dimeriahkan oleh penampilan deretan grup musik ternama seperti Efek Rumah Kaca, Majelis Lidah Berduri, hingga Usman and The Black Stone.
Agenda pergerakan ini diawali dengan penyampaian orasi pemantik semangat dari dua orang aktivis yakni Delpedro Marhaen dan Sam Oemar yang membagikan kisah pahit mereka saat merasakan ketidakadilan mendekam di balik jeruji besi tanpa pembuktian hukum dari negara.
Suasana kawasan semakin semarak ketika grup musik Majelis Lidah Berduri naik ke atas panggung yang langsung membuat kerumunan penonton berkumpul dan bernyanyi bersama di area pelataran Monumen Serangan Umum 1 Maret.
“Situasi ekonomi Indonesia saat ini sudah absurd, oleh karena itu kita mengekspresikan keresahan-keresahan yang ada melalui musik,” sebut vokalis Majelis Lidah Berduri yang akrab disapa Ugo dari atas panggung.
Penguatan moral juga dilontarkan dalam kesempatan yang sama untuk menegaskan bahwa kelompok anak muda merupakan elemen paling krusial di dalam denyut kehidupan sebuah bangsa.
“Anak muda menjadi bagian terpenting dalam kehidupan bangsa, perlawanan akan kesewenang-wenangan menjadi momentum membangkitkan anak muda untuk memiliki kesadaran akan ketertindasan,” jelas pendiri Social Movement Institute Eko Prasetyo.
Seniman senior Butet Kertaredjasa yang turut hadir sebagai bintang tamu tak luput membakar semangat ribuan penonton dengan melontarkan sebuah pertanyaan provokatif di awal sesi orasinya.
“Apakah kalian bersedia memimpin revolusi,” teriak Butet yang seketika langsung dijawab dengan gemuruh seruan kesiapan dari para penonton yang hadir.
Tokoh budayawan tersebut juga membagikan keprihatinannya terhadap ironi kelangkaan pangan di mana Indonesia sebagai negara agraris yang kaya justru membiarkan harga beras meroket hingga menyentuh angka Rp17.800 per kilogram sehingga memiskinkan rakyatnya sendiri.
Sebagai bentuk pelampiasan rasa resahnya terhadap nasib bangsa, ia pun membacakan sebuah puisi langka bertajuk Jika yang secara historis tercatat baru tiga kali dibacakan di hadapan publik.
Memasuki waktu selepas petang, giliran grup musik Efek Rumah Kaca yang mengambil alih panggung hiburan dengan membawakan sejumlah nomor lagu andalan sarat kritik sosial seperti Seperti Rahim Ibu, Putih, Sebelah Mata, dan Di Udara.
Rangkaian pertunjukan musik yang menggemakan semangat perlawanan ini kemudian ditutup dengan sangat meriah oleh aksi panggung penutup dari grup Usman and The Black Stone.
Sebelum acara benar-benar berakhir, pembawa acara Nasyila Rose yang akrab disapa Cilla menyempatkan diri untuk mengingatkan seluruh massa penonton agar kembali merapatkan barisan dan hadir dalam agenda Aksi Kamisan pada pekan depan.
Penyelenggaraan konser peringatan hari ulang tahun ini diharapkan mampu menjadi pemantik bagi para pemuda untuk merawat kembali ingatan kolektifnya dalam bergerak melawan segala bentuk ketidakadilan di tengah masyarakat.
Laporan: Angga Riyon Nugroho | Editor: Michael