Kemenag Sebut Kewajiban Sertifikasi Halal Dorong Perekonomian Rakyat

pranusa.id October 21, 2025

Ilustrasi: Halal

JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan bahwa kewajiban sertifikasi halal bagi seluruh produk, termasuk di tingkat Usaha Mikro dan Kecil (UMK), akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi perekonomian masyarakat.

Direktur Jaminan Produk Halal (JPH) Kemenag, Muhammad Fuad Nasar, menyatakan bahwa regulasi ini terbukti meningkatkan kepercayaan konsumen dan omzet pelaku usaha.

“Sertifikasi halal yang diwajibkan berdasarkan perundang-undangan. Tentu akan berdampak baik pada perekonomian rakyat,” kata Fuad Nasar dalam keterangannya, Selasa (21/10/2025).

Fuad menjelaskan, pemerintah telah memfasilitasi UMK melalui Program Sertifikasi Halal Gratis (SEHATI) yang dijalankan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Program ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk mengembangkan kewirausahaan nasional dan industri kreatif.

Ia memastikan prosedur untuk UMK sangat dimudahkan dan tidak dipungut biaya.

“Prosedurnya mudah. Pelaku usaha hanya perlu mengajukan sertifikasi halal dan memilih Pendamping Proses Produk Halal (P3H) untuk melakukan verifikasi dan validasi pernyataan kehalalan produk secara mandiri (self declare), tanpa biaya karena disubsidi oleh negara,” ujarnya.

Bukti Peningkatan Omzet

Fuad memaparkan sejumlah data lapangan dan hasil penelitian yang menunjukkan peningkatan pendapatan pelaku usaha setelah mengantongi sertifikat halal.

Di Pekanbaru, misalnya, rata-rata omzet UMK tercatat meningkat sekitar 50 persen setelah memperoleh label halal. Temuan serupa juga didapat dari pelaku usaha kuliner Tahu Gimbal Pak Edi di Semarang yang mengaku penjualannya meningkat.

“Usaha di sektor food and beverage di Makassar juga mengalami kenaikan omzet setelah memperoleh sertifikat halal,” ungkap Fuad.

Dampak ekonomi program ini juga dirasakan lebih luas. Di Kabupaten Lumajang, sertifikasi halal terbukti mampu memperluas peluang pasar dan membuka lapangan kerja baru.

“Program sertifikasi halal juga bisa menciptakan lebih dari 12.000 lapangan kerja, seperti auditor halal, pendamping proses halal, dan supervisor halal,” tambahnya.

Meski demikian, Fuad mengingatkan agar pelaku usaha yang telah bersertifikat dapat menjaga konsistensi dan kepatuhan terhadap regulasi.

“Pelaku usaha harus konsisten dalam penggunaan bahan baku dan proses pengolahan. Antara yang dilaporkan dan yang disajikan kepada pembeli harus benar-benar sesuai,” ucapnya.

Kewajiban sertifikasi halal bagi produk UMK sendiri ditargetkan akan berlaku penuh pada 17 Oktober 2026.

Laporan: Hendri | Editor: Kristoforus

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Ruben Onsu Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan Dana Investasi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan menetapkan artis…
Wapres Gibran Tinjau Pengungsian Gempa Sikka di Stadion Samador, Minta Bantuan Jangkau Wilayah Terisolasi
MAUMERE, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming meninjau…
Atasi Bencana Gempa Flores, Pemprov NTT Kelola Dana Bantuan Rp4,35 Miliar dan Kucurkan Logistik
ENDE, PRANUSA.ID — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Badan…
Bank NTT Cabang Ende Salurkan 100 Paket Sembako dan Terpal untuk Korban Gempa Flores
ENDE, PRANUSA.ID — Gelombang kepedulian bagi masyarakat terdampak bencana gempa…
Peringati HUT ke-78 dan Menuju Dasawindu 2028, SMA Kolese De Britto Resmi Buka PSB TA 2027/2028
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Bertepatan dengan peringatan HUT ke-78 SMA Kolese…