Amerika Serikat Catat Angka Kematian 1.509 Jiwa Dalam 24 Jam Akibat Covid-19

Thom Sembiring April 14, 2020

Ilustrasi Freepik

Kematian akibat virus Covid-19 di Amerika Serikat mencatatkan angka 1.509 jiwa dalam 24 jam terakhir.Informasi ini disampaikan oleh Universitas Johns Hopkins pada Selasa (14/4/2020) pukul 7.30 pagi WIB atau pada Senin (13/4/2020) pukul 20.30 waktu setempat. Angka ini masih setara dengan angka pada hari sebelumnya yang mencatatkan kematian 1.514 jiwa.

Sejauh ini AS memiliki lebih dari 550.000 kasus virus Covid-19, merujuk pada informasi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) . Sementara Andrew Cuomo , Gubernur New York sendiri pada Senin menyatakan bahwa kondisi “yang terburuk sudah berakhir” di negara bagian tersebut, ketika angka kematian mencapai 10.000.

Menurut Cuomo, tingkat rawat inap di rumah sakit mereka telah berkurang. Meski demikian, ia mengingatkan pandemi Covid-19 masih dapat memburuk bila pembatasan dicabut terlalu awal.

“Bagian terburuk sudah berakhir bila kita berpikir ke depan. Saya percaya kita sekarang sedang bergerak menuju kondisi normal,” kata Cuomo kepada wartawan seperti dikutip dari AFP.

Politisi dan Gubernur dari Partai Demokrat itu pun telah berkordinasi dengan Gubernur New Jersey, Connecticut, Pennsylvania, Delaware dan Rhode Island, untuk melihat kemungkinan pembukaan pembatasan wilayah atau lockdown. Keputusan ini merupakan sesuatu yang disebut akan dipertimbangkan dengan cermat.
“Kami ingin membuka kembali sesegera mungkin. Namun kami harus pintar dalam menentukan cara kami membuka kembali (lockdown),” kata Cuomo.

Senada dengan itu, Gubernur New Jersey Phil Murphy menyebut pencabutan lockdown secara tergesa-gesa dapat memberikan dampak negatif terhadap masyarakat. Lebih lanjut ia berpendapat pemulihan secara signifikan bakal berlangsung seiring peningkatan kualitas dan keberlanjutan perawatan kesehatan yang lebih baik.

“Jika kami mulai bangkit kembali (mencabut lockdown) terlalu cepat, saya khawatir, berdasarkan data yang kami lihat, kami bisa seperti melempar bensin ke api,” ucap Murphy.

Sementara itu, Presiden Donald Trump sebelumnya juga memiliki rencana untuk mengambil keputusan terkait kapan pencabutan lockdown di AS bakal dilakukan. Trump sempat menyampaikan optimismenya bahwa pemerintah telah menaklukan virus melalui akun Twitter-nya beberapa hari lalu.

“Kami menang, dan akan menang, perang melawan Musuh yang Tak Terlihat!” tulisnya.

Sebagai informasi, New York menjadi negara bagian dengan kasus Covid-19 terbanyak di AS dengan 195.031. Sejauh ini, AS sendiri kini memiliki 586.748 kasus corona dan 23.618 kematian. Angka ini melebihi angka positif corona di Italia dan Spanyol di mana keduanya sempat menjadi negara dengan pasien corona terbanyak di dunia. Hingga saat ini,  Italia memiliki 159.516 kasus dan Spanyol 170.099 kasus.

a34a305b-0230-41ea-a533-3e9cf5b7fbca
Berita Lainnya
Gelar Aksi ‘Asap Bukan Takdir’ di Nol Km Jogja, Ibu Berisik Pukul Panci dan Live Painting
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Komunitas Ibu Berisik menggelar aksi live painting…
Sebut Tawaran Rp25 Juta Tak Manusiawi, Buruh Marhaenis Ende Ancam Gelar Aksi Massa Soal Sawah Dile
ENDE, PRANUSA.ID — Kesatuan Buruh Marhaenis Kabupaten Ende mengkritik keras…
Kabulkan Gugatan, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah SMA Luar Negeri Gibran Tidak Sah
JAKARTA, PRANUSA.ID — Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan kasasi yang…
Geram Aktivis PMKRI Bawa Salib saat Demo, Pigai: Kalian Tidak Akan Jadi Apa-Apa!
JAKARTA, PRANUSA.ID — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai…
Protes Kebijakan Kanselir Friedrich Merz, Gen Z Regelt Gelar Demo Serentak di 20 Kota Jerman
BERLIN, PRANUSA.ID — Kelompok pelajar dan mahasiswa di Jerman yang…