Eks Penasihat Antiterorisme Khawatirkan AS Nekat Pakai Nuklir Lawan Iran

pranusa.id September 2, 2026

USA vs Iran (Copyright: ©rolffimages )

WASHINGTON, PRANUSA.ID — Kebuntuan strategi militer konvensional Amerika Serikat (AS) dalam menundukkan Iran memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik ke tingkat terburuk.

Washington dinilai berpotensi mempertimbangkan penggunaan senjata pemusnah massal atau nuklir jika tetap memaksakan penyerahan tanpa syarat dari Teheran.

Peringatan tersebut diungkapkan oleh mantan penasihat antiterorisme Presiden AS, Joe Kent, saat berbicara dalam siniar bersama Tucker Carlson.

Kent menilai pengerahan armada militer dan sanksi ekonomi maksimal sejauh ini gagal mencapai target strategis Gedung Putih.

“Kita akan menjadi bodoh jika berpikir bahwa hal ini tidak dapat terjadi di sini, dalam skenario saat ini, terutama saat pemerintahan berusaha mencari jalan keluar,” tegas Kent.

Menurut Kent, opsi invasi darat secara penuh ke wilayah Iran hampir mustahil dilakukan karena faktor bentang alam yang luas serta populasi penduduk yang besar.

Kondisi tersebut menyempitkan opsi militer AS hingga memunculkan spekulasi serangan nuklir terbatas ke fasilitas pengayaan uranium bawah tanah milik Iran di kawasan pegunungan.

Sinyal mengkhawatirkan ini menguat setelah AS mendadak menangguhkan gelombang serangan udaranya akhir bulan lalu, yang memicu rumor terkait krisis pasokan amunisi presisi tinggi di tubuh militer AS—meski isu tersebut dibantah oleh jajaran pejabat senior Washington.

Peringatan Kent ini sekaligus menggemakan gertakan Presiden Donald Trump yang sebelumnya mengancam akan melenyapkan infrastruktur vital Iran jika menolak tunduk.

Menyadari jalur militer menghadapi tembok tebal, Trump mengalihkan manuvernya dengan mengumumkan perang ekonomi habis-habisan yang dinamai Economic D-Day atau “Hari-H Ekonomi”.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menindaklanjuti instruksi tersebut dengan menggelontorkan sanksi finansial baru yang menyasar hampir 60 entitas, individu, dan armada kapal pengangkut di berbagai negara, termasuk 21 entitas di China.

“Setiap entitas yang memfasilitasi pencucian uang atas nama Iran akan dikeluarkan dari sistem

Laporan: Christian | Editor: Arya

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Dugaan Penganiayaan, Anggota Dewan dari Hanura Laporkan Ketua DPRD Ende ke Polisi
ENDE, PRANUSA.ID — Insiden dugaan penganiayaan mengguncang lingkungan lembaga legislatif…
Panggil Panglima TNI dan Kapolri ke Hambalang, Presiden Prabowo Instruksikan Penanganan Cepat Karhutla Sumatra-Kalimantan
BOGOR, PRANUSA.ID — Presiden Prabowo Subianto memanggil Panglima TNI Jenderal…
Muhadjir Effendy Sebut Pengalihan 10 Ribu Kuota Usulan Asosiasi Travel dan Direstui Jokowi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pengalihan 10.000 kuota haji tambahan tahun 2023–2024…
BMKG Deteksi 6.169 Titik Panas di Kalbar, Ketapang dan Kubu Raya Jadi Wilayah Terbanyak
KUBU RAYA, PRANUSA.ID — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)…
Puan Maharani Sebut Kritik Masyarakat Jadi Pendorong Transformasi Lembaga
JAKARTA, PRANUSA.ID — Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan komitmen…