
WASHINGTON, PRANUSA.ID — Kebuntuan strategi militer konvensional Amerika Serikat (AS) dalam menundukkan Iran memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik ke tingkat terburuk.
Washington dinilai berpotensi mempertimbangkan penggunaan senjata pemusnah massal atau nuklir jika tetap memaksakan penyerahan tanpa syarat dari Teheran.
Peringatan tersebut diungkapkan oleh mantan penasihat antiterorisme Presiden AS, Joe Kent, saat berbicara dalam siniar bersama Tucker Carlson.
Kent menilai pengerahan armada militer dan sanksi ekonomi maksimal sejauh ini gagal mencapai target strategis Gedung Putih.
“Kita akan menjadi bodoh jika berpikir bahwa hal ini tidak dapat terjadi di sini, dalam skenario saat ini, terutama saat pemerintahan berusaha mencari jalan keluar,” tegas Kent.
Menurut Kent, opsi invasi darat secara penuh ke wilayah Iran hampir mustahil dilakukan karena faktor bentang alam yang luas serta populasi penduduk yang besar.
Kondisi tersebut menyempitkan opsi militer AS hingga memunculkan spekulasi serangan nuklir terbatas ke fasilitas pengayaan uranium bawah tanah milik Iran di kawasan pegunungan.
Sinyal mengkhawatirkan ini menguat setelah AS mendadak menangguhkan gelombang serangan udaranya akhir bulan lalu, yang memicu rumor terkait krisis pasokan amunisi presisi tinggi di tubuh militer AS—meski isu tersebut dibantah oleh jajaran pejabat senior Washington.
Peringatan Kent ini sekaligus menggemakan gertakan Presiden Donald Trump yang sebelumnya mengancam akan melenyapkan infrastruktur vital Iran jika menolak tunduk.
Menyadari jalur militer menghadapi tembok tebal, Trump mengalihkan manuvernya dengan mengumumkan perang ekonomi habis-habisan yang dinamai Economic D-Day atau “Hari-H Ekonomi”.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menindaklanjuti instruksi tersebut dengan menggelontorkan sanksi finansial baru yang menyasar hampir 60 entitas, individu, dan armada kapal pengangkut di berbagai negara, termasuk 21 entitas di China.
“Setiap entitas yang memfasilitasi pencucian uang atas nama Iran akan dikeluarkan dari sistem
Laporan: Christian | Editor: Arya