Muhadjir Effendy Sebut Pengalihan 10 Ribu Kuota Usulan Asosiasi Travel dan Direstui Jokowi

pranusa.id September 2, 2026

FOTO: Muhadjir Effendy

JAKARTA, PRANUSA.ID — Pengalihan 10.000 kuota haji tambahan tahun 2023–2024 menjadi visa mujamalah ternyata lahir dari inisiasi pengusaha travel swasta yang kemudian disetujui langsung oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

Hal tersebut dibeberkan mantan Menteri Agama ad interim, Muhadjir Effendy, saat bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2026).

Muhadjir menyebutkan bahwa gagasan mengalihkan kuota tersebut datang dari Direktur Utama PT Makassar Toraja (Maktour) sekaligus Dewan Pembina Forum Silaturahmi Asosiasi Travel Haji dan Umrah (SATHU), Fuad Hasan Masyhur.

“Salah satunya yang saya kenal, Pak Fuad,” ungkap Muhadjir di hadapan majelis hakim saat merespons pertanyaan tim penasihat hukum terdakwa mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas.

Langkah darurat itu diambil karena Kementerian Agama terdesak waktu operasional yang sangat terbatas untuk mengeksekusi 10.000 kuota haji reguler.

Menghindari kuota nasional hangus sia-sia, Fuad menyodorkan opsi pengalihan ke visa mujamalah yang pengelolaannya diserahkan kepada Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK).

Selain menyodorkan skema tersebut, Fuad meminta Muhadjir bersurat resmi ke Kedutaan Besar Arab Saudi, sementara Forum SATHU menjamin penanganan teknis paspor dan visa jemaah.

Sadar statusnya hanya pejabat sementara, Muhadjir tak berani mengambil keputusan sepihak. Ia meneruskan usulan tersebut ke Istana Negara melalui Sekretaris Kabinet kala itu, Pramono Anung.

“Dan sekali lagi karena saya Menteri Ad Interim, maka keputusan penting harus dikonsultasikan kepada Presiden,” kata Muhadjir.

Hasil konsultasi mengonfirmasi bahwa Presiden Jokowi memberi lampu hijau atas skema pengalihan tersebut. “Menurut penjelasan dari Pak Seskab, iya (Presiden mendukung),” tegasnya.

Muhadjir menambahkan, kuota 10.000 itu sendiri awalnya merupakan komitmen ekstra hasil lobi personal Presiden Jokowi dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS).

Kesaksian Muhadjir di ruang sidang ini menjadi pengurai kunci bagaimana skema pengalihan kuota haji berpindah jalur dari komitmen antarnegara, diolah oleh asosiasi swasta, hingga akhirnya disahkan oleh keputusan puncak di Istana.

Laporan: Severinus | Editor: Michael

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Dugaan Penganiayaan, Anggota Dewan dari Hanura Laporkan Ketua DPRD Ende ke Polisi
ENDE, PRANUSA.ID — Insiden dugaan penganiayaan mengguncang lingkungan lembaga legislatif…
Panggil Panglima TNI dan Kapolri ke Hambalang, Presiden Prabowo Instruksikan Penanganan Cepat Karhutla Sumatra-Kalimantan
BOGOR, PRANUSA.ID — Presiden Prabowo Subianto memanggil Panglima TNI Jenderal…
Eks Penasihat Antiterorisme Khawatirkan AS Nekat Pakai Nuklir Lawan Iran
WASHINGTON, PRANUSA.ID — Kebuntuan strategi militer konvensional Amerika Serikat (AS)…
BMKG Deteksi 6.169 Titik Panas di Kalbar, Ketapang dan Kubu Raya Jadi Wilayah Terbanyak
KUBU RAYA, PRANUSA.ID — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)…
Puan Maharani Sebut Kritik Masyarakat Jadi Pendorong Transformasi Lembaga
JAKARTA, PRANUSA.ID — Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan komitmen…