Guru Dipenggal Usai Ajar Pakai Kartun Nabi, Ribuan Warga Prancis Demo

pranusa.id October 19, 2020

PRANUSA.ID — Samuel Paty, guru sejarah di Prancis tewas akibat dipenggal usai menggunakan karikatur Nabi Muhammad dari Majalah Charlie Hebdo sebagai bahan ajarnya.

Polisi kini sudah mengamankan sejumlah tersangka, diantaranya seorang remaja berusia 18 tahun bernama Abdoullakh Abouyezidovitch, sang kakek, orang tua dan saudara pelaku yang berusia 17 tahun.

Penyerangan terhadap Samuel Paty terjadi pada Jumat (16/10). Kabarnya, pelaku Abouyezidovitch bertanya soal keberadaan Paty kepada para siswa sepulang sekolah sebelum melancarkan aksinya.

Melalui akun Twitternya, Abouyezidovitch lalu menuliskan cuitan “telah mengeksekusi salah satu anjing neraka” usai menyerang Samuel Paty dalam perjalanan pulang.

Dilansir CNN, ribuan orang menggelar aksi solidaritas di sekitar Place de la République Paris untuk menuntut keadilan atas pemenggalan Samuel Paty, Minggu (18/10) waktu setempat.

Beberapa dari mereka ada yang memegang tanda dengan halaman depan Charlie Hebdo, ada juga yang mengibarkan plakat bertuliskan, “Tidak untuk Islamisasi” atau “Nazi melukai leher kami”.

Bahkan, sejumlah pejabat publik dan politisi juga ikut serta dalam aksi protes tersebut, termasuk Wali Kota Paris Anne Hidalgo, Perdana Menteri Jean Castex, dan lainnya.

Menteri Pendidikan Prancis Jean-Michel Blanquer melalui cuitannya di Twitter juga ikut bersuara soal pembunuhan Paty yang disebutnya “karena mengajar kelas berkaitan dengan salah satu pilar demokrasi, kebebasan berekspresi”.

“Samuel Paty mewujudkan aset Republik kami yang paling mulia: sekolahnya. Dia dibunuh secara pengecut oleh musuh kebebasan. Kami akan bersatu, tegas dan tegas,” tulis Blanquer.

Sementara itu, dilansir AFP, Nordine Chaouadi, orang tua murid di sekolah tersebut mengatakan bahwa tindakan yang diambil Paty bertujuan menghindari singgungan remaja Muslim di kelasnya.

“Hanya untuk mengajarkan mereka. Atas dasar kebaikan, dia (Paty) harus menunjukkan karikatur nabi Islam dan hanya berkata kepada anak-anak Muslim: ‘Pergilah, aku tidak ingin itu melukai perasaanmu.’ Itu yang dikatakan anakku,” ujar dia.

(Crn/Pranusa)

f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Pesan Natalius Pigai untuk Warga Papua: Boleh Tuntut Kesejahteraan, Asal Tidak Minta Merdeka
NABIRE, PRANUSA.ID — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai…
Kritik Kesejahteraan Pascakemerdekaan, Festival Bantal Galang Donasi Alat Tidur bagi Buruh Gendong Beringharjo
SLEMAN, PRANUSA.ID — Memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik…
Dinas Sosial Kota Yogyakarta Gelar Ziarah Edukatif Pekan “Jejak Patriot” bagi Pelajar
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Dinas Sosial Kota Yogyakarta menggelar kegiatan ziarah…
Sinergi TNI-Polri dan Forkopimda Ende Salurkan 725 Paket Bansos Presiden untuk Korban Gempa
ENDE, PRANUSA.ID — Sebagai wujud kepedulian negara di tengah masyarakat…
81 Tahun Indonesia: Merdeka Sejati atau sekadar “Merdeka-Merdekaan”?
KOLOM— Pada 17 Agustus 2026, masyarakat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan…