
IRAN — Jumlah korban jiwa akibat eskalasi serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke wilayah kedaulatan Iran dilaporkan melonjak tajam hingga menembus angka 1.045 orang.
Lonjakan angka kematian yang sangat signifikan tersebut didasarkan pada rilis laporan terbaru dari kantor berita Iran, Tasnim News Agency, hingga Rabu (4/3/2026).
Data terbaru ini menunjukkan peningkatan yang drastis jika dibandingkan dengan catatan Yayasan Martir dan Urusan Veteran Iran sehari sebelumnya yang mengonfirmasi 787 korban jiwa.
Kalkulasi tersebut secara tragis mengindikasikan bahwa dalam kurun waktu 24 jam saja, hampir 300 nyawa melayang akibat intensitas gempuran militer yang kian mematikan.
Laporan di lapangan menyebutkan bahwa ribuan korban jiwa tersebut mencakup jajaran personel militer dan masyarakat sipil yang tidak bersenjata.
Otoritas berwenang setempat kini masih terus berjibaku melakukan proses verifikasi terkait identitas para korban serta mendata lokasi-lokasi yang paling hancur terdampak.
Memasuki hari kelima pecahnya konflik bersenjata ini, intensitas gempuran bom dari udara dilaporkan sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Pihak militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) bahkan telah mengonfirmasi peluncuran gelombang serangan ke-10 mereka pada Rabu siang waktu setempat.
Target utama dari rentetan operasi militer tersebut dikabarkan menyasar sejumlah kota strategis di wilayah barat hingga timur, termasuk ibu kota Teheran, Karaj, dan Isfahan.
Kondisi kian memprihatinkan setelah media lokal Iran mengabarkan bahwa gelombang serangan koalisi terbaru tersebut turut menghantam sejumlah fasilitas pendidikan.
Sedikitnya lima orang warga dilaporkan tewas seketika akibat ledakan udara yang secara membabi buta mengenai area bangunan sekolah tersebut.
Menyikapi agresi militer ini, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) secara resmi menyatakan telah meluncurkan gelombang serangan balasan rudal yang ke-16 dan ke-17.
Aksi saling balas serangan destruktif dari kedua belah pihak sejak Selasa malam hingga Rabu siang ini praktis memperburuk krisis keamanan dan memicu kehancuran massal.
Komunitas internasional kini mulai mendesak dibukanya jalur diplomasi dan gencatan senjata sesegera mungkin guna mencegah jatuhnya korban sipil yang jauh lebih besar.
Di luar krisis kemanusiaan yang mendesak, ketidakpastian keamanan akibat perang terbuka ini juga memunculkan pertanyaan besar terhadap nasib partisipasi Iran di ajang Piala Dunia FIFA 2026.
Meski pihak federasi FIFA dilaporkan masih berharap tim nasional Iran tetap dapat tampil, peluang keikutsertaan skuad tersebut kini sangat bergantung pada meredanya tensi konflik bersenjata.
Laporan: Severinus | Editor: Arya