
WASHINGTON – Serangan udara skala besar Amerika Serikat (AS) ke wilayah Iran dalam operasi bersandi “Epic Fury” pada akhir pekan lalu dilaporkan merupakan hasil lobi intensif dari sekutu di Timur Tengah.
Media The Washington Post mengungkap bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), menjadi aktor utama yang mendorong operasi tersebut.
Sumber internal menyebutkan bahwa Pangeran MBS secara diam-diam telah melakukan sejumlah panggilan telepon pribadi kepada Presiden Donald Trump dalam sebulan terakhir untuk mendesak serangan.
Manuver politik di balik layar yang dilakukan MBS tersebut berbanding terbalik dengan sikap resminya di hadapan publik yang seolah-olah terus mengkampanyekan solusi diplomatik.
Di sisi lain, Netanyahu terus melanjutkan kampanye terbukanya untuk mendesak AS agar segera menyerang Iran yang selalu ia anggap sebagai ancaman eksistensial bagi Israel.
Upaya konvergen dari dua pemimpin kawasan tersebut diyakini berhasil meyakinkan Trump untuk melancarkan kampanye udara, sebuah langkah yang menyimpang dari kebijakan historis Washington.
“Tidak ada presiden yang bersedia melakukan apa yang saya bersedia lakukan malam ini,” kata Trump dalam pidato videonya yang ditujukan kepada rakyat Iran.
“Sekarang Anda memiliki presiden yang memberi Anda apa yang Anda inginkan, jadi mari kita lihat bagaimana Anda meresponsnya,” tambahnya melontarkan tantangan ke Teheran.
Dorongan agresi dari Saudi ini ironisnya terjadi di tengah proses negosiasi nuklir yang sedang dijalankan oleh utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, di Jenewa.
Dalam lobi tertutupnya, para petinggi Riyadh memperingatkan bahwa Iran akan menjadi jauh lebih berbahaya jika AS melewatkan momentum pengerahan armada militernya saat ini.
Menanggapi kehancuran akibat operasi “Epic Fury” tersebut, militer Iran dilaporkan langsung merespons dengan melancarkan serangan balasan yang menargetkan wilayah Arab Saudi.
Pemerintah Arab Saudi merespons keras serangan balasan itu dan secara resmi mendesak komunitas internasional untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap Teheran.
Sementara itu, Presiden Trump membenarkan keputusannya dengan merujuk pada rentetan konflik sejarah, mulai dari krisis penyanderaan 1979 hingga pengeboman barak AS di Beirut pada 1983.
Trump juga menuding bahwa rezim Iran saat ini terus mengembangkan senjata nuklir dan rudal jarak jauh yang diklaim berpotensi mencapai daratan Amerika dalam waktu dekat.
*Dirangkum dari berbagai sumber
Laporan: Severinus | Editor: Michael