Media AS Sebut Arab Saudi Diam-diam Dorong Trump Gempur Iran

pranusa.id March 2, 2026

Ilustrasi: Bendera negara Arab Saudi

WASHINGTON – Serangan udara skala besar Amerika Serikat (AS) ke wilayah Iran dalam operasi bersandi “Epic Fury” pada akhir pekan lalu dilaporkan merupakan hasil lobi intensif dari sekutu di Timur Tengah.

Media The Washington Post mengungkap bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), menjadi aktor utama yang mendorong operasi tersebut.

Sumber internal menyebutkan bahwa Pangeran MBS secara diam-diam telah melakukan sejumlah panggilan telepon pribadi kepada Presiden Donald Trump dalam sebulan terakhir untuk mendesak serangan.

Manuver politik di balik layar yang dilakukan MBS tersebut berbanding terbalik dengan sikap resminya di hadapan publik yang seolah-olah terus mengkampanyekan solusi diplomatik.

Di sisi lain, Netanyahu terus melanjutkan kampanye terbukanya untuk mendesak AS agar segera menyerang Iran yang selalu ia anggap sebagai ancaman eksistensial bagi Israel.

Upaya konvergen dari dua pemimpin kawasan tersebut diyakini berhasil meyakinkan Trump untuk melancarkan kampanye udara, sebuah langkah yang menyimpang dari kebijakan historis Washington.

“Tidak ada presiden yang bersedia melakukan apa yang saya bersedia lakukan malam ini,” kata Trump dalam pidato videonya yang ditujukan kepada rakyat Iran.

“Sekarang Anda memiliki presiden yang memberi Anda apa yang Anda inginkan, jadi mari kita lihat bagaimana Anda meresponsnya,” tambahnya melontarkan tantangan ke Teheran.

Dorongan agresi dari Saudi ini ironisnya terjadi di tengah proses negosiasi nuklir yang sedang dijalankan oleh utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, di Jenewa.

Dalam lobi tertutupnya, para petinggi Riyadh memperingatkan bahwa Iran akan menjadi jauh lebih berbahaya jika AS melewatkan momentum pengerahan armada militernya saat ini.

Menanggapi kehancuran akibat operasi “Epic Fury” tersebut, militer Iran dilaporkan langsung merespons dengan melancarkan serangan balasan yang menargetkan wilayah Arab Saudi.

Pemerintah Arab Saudi merespons keras serangan balasan itu dan secara resmi mendesak komunitas internasional untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap Teheran.

Sementara itu, Presiden Trump membenarkan keputusannya dengan merujuk pada rentetan konflik sejarah, mulai dari krisis penyanderaan 1979 hingga pengeboman barak AS di Beirut pada 1983.

Trump juga menuding bahwa rezim Iran saat ini terus mengembangkan senjata nuklir dan rudal jarak jauh yang diklaim berpotensi mencapai daratan Amerika dalam waktu dekat.

*Dirangkum dari berbagai sumber

Laporan: Severinus | Editor: Michael

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Ruben Onsu Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan Dana Investasi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan menetapkan artis…
Wapres Gibran Tinjau Pengungsian Gempa Sikka di Stadion Samador, Minta Bantuan Jangkau Wilayah Terisolasi
MAUMERE, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming meninjau…
Atasi Bencana Gempa Flores, Pemprov NTT Kelola Dana Bantuan Rp4,35 Miliar dan Kucurkan Logistik
ENDE, PRANUSA.ID — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Badan…
Bank NTT Cabang Ende Salurkan 100 Paket Sembako dan Terpal untuk Korban Gempa Flores
ENDE, PRANUSA.ID — Gelombang kepedulian bagi masyarakat terdampak bencana gempa…
Peringati HUT ke-78 dan Menuju Dasawindu 2028, SMA Kolese De Britto Resmi Buka PSB TA 2027/2028
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Bertepatan dengan peringatan HUT ke-78 SMA Kolese…