
TRIPOLI – Saif al-Islam Gaddafi, putra mendiang pemimpin Libya Muammar Gaddafi, dilaporkan tewas setelah diserang oleh kelompok bersenjata di kediamannya di kota Zintan, Libya bagian barat, pada Selasa (3/2/2026).
Insiden penembakan tersebut dikonfirmasi oleh tim kuasa hukum dan penasihat Saif, yang menyebutkan bahwa serangan terjadi pada siang hari sekitar pukul 14.00 waktu setempat.
Menurut laporan, empat pria bertopeng menerobos masuk ke dalam rumah Saif dan diduga telah menonaktifkan kamera pengawas (CCTV) sebelum melancarkan aksi eksekusi tersebut untuk menghilangkan jejak.
“Empat pria bertopeng menyerbu rumahnya dan membunuhnya dalam sebuah pembunuhan pengecut dan khianat,” ungkap salah satu anggota tim politik Saif al-Islam.
Pengacara Saif, Khaled al-Zaidi, membenarkan kabar duka ini namun belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai motif di balik pembunuhan kliennya yang selama ini hidup dalam persembunyian di Zintan.
Sebelum insiden mematikan ini terjadi, Saif al-Islam dikabarkan sempat menerima peringatan terkait adanya ancaman terhadap keselamatan jiwanya, namun ia menolak tawaran pengamanan tambahan.
Kematian tokoh berusia 53 tahun ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak di Libya, termasuk seruan untuk segera dilakukan penyelidikan transparan guna mengungkap pelaku dan dalang di balik serangan tersebut.
Saif al-Islam sendiri merupakan figur kontroversial yang pernah digadang-gadang sebagai penerus ayahnya sebelum rezim Muammar Gaddafi runtuh pada 2011, dan belakangan kembali muncul dalam kancah politik sebagai calon presiden.
Laporan: Marsianus | Editor: Arya