
JAKARTA, PRANUSA.ID – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas di tengah masa gencatan senjata menyusul laporan yang menyebutkan bahwa militer Washington tengah menyusun sejumlah skenario serangan baru di kawasan strategis Selat Hormuz.
“Opsi militer yang dipertimbangkan mencakup penargetan kapal serang cepat, aset perang asimetris, fasilitas dwiguna seperti pembangkit listrik dan jembatan, hingga penargetan komandan Korps Garda Revolusi Islam Ahmad Vahidi,” tulis laporan CNN.
Eskalasi tersebut merupakan buntut dari kebuntuan perundingan lanjutan di Islamabad pascaserangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu yang sebelumnya sempat diredam melalui kesepakatan jeda konflik selama dua pekan pada awal bulan April.
“Angkatan Laut AS diinstruksikan untuk menindak tegas tanpa keraguan setiap kapal kecil yang dicurigai memasang ranjau di Selat Hormuz sekaligus meningkatkan operasi penyapuan ranjau hingga tiga kali lipat,” kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Peningkatan operasi angkatan laut yang dibarengi blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran tersebut dilakukan setelah pihak Pentagon melaporkan kepada Kongres bahwa proses pembersihan puluhan ranjau berteknologi GPS berpotensi memakan waktu hingga enam bulan.
“Tuduhan penempatan ranjau tersebut tidak berdasar dan murni merupakan propaganda yang digulirkan di tengah dinamika perbedaan pandangan antara kelompok garis keras dan moderat di internal Iran,” ujar perwakilan pemerintah Iran.
Menyikapi penolakan tersebut sekaligus merespons peluang diplomasi yang dikabarkan masih terbuka dalam beberapa hari ke depan, Washington mempertegas posisinya dengan mengklaim telah menguasai rute distribusi minyak global itu secara mutlak.
“Amerika Serikat kini memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz dan tidak ada satu pun kapal yang dapat melintas tanpa persetujuan Angkatan Laut kami,” ucap Trump.
Laporan: Hendri | Editor: Arya