
TEHERAN, PRANUSA.ID – Pemerintah Iran mengisyaratkan bahwa proses negosiasi dengan Amerika Serikat berpotensi menemui jalan buntu usai menolak skema gencatan senjata yang tidak disertai jaminan keamanan jangka panjang.
“Iran selalu menyambut diplomasi dan dialog, namun negosiasi harus berjalan dengan dasar yang adil dan tidak didasarkan pada informasi yang menyesatkan,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, dalam pertemuan dengan diplomat asing di Teheran pada Jumat (10/4/2026).
Menghindari potensi agresi militer baru, ia menegaskan bahwa proses diplomasi tersebut tidak boleh dimanfaatkan sebagai taktik jeda bagi pihak lawan untuk kembali memperkuat kapasitas persenjataannya.
“Kerangka kerja 10 poin yang diajukan Iran telah diterima sebagai dasar awal pembahasan dengan Washington, mencakup tuntutan pengakuan hak memperkaya uranium, pencabutan sanksi, hingga penarikan pasukan AS dari Timur Tengah,” terangnya.
Proposal kesepakatan menyeluruh itu turut mensyaratkan penghentian permusuhan di wilayah Lebanon guna meredam eskalasi konflik pascaserangan militer gabungan Israel dan AS ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu.
“Sebelumnya kami sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi oleh Pakistan sebagai langkah awal menuju kesepakatan yang lebih luas,” pungkasnya.
Laporan: Severinus | Editor: Arya