Ada Tunjangan yang Dipangkas, Gaji DPR Dinilai Masih Terlalu Besar

pranusa.id September 7, 2025

FOTO: Gedung DPR/MPR.

JAKARTA– Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) menilai total pendapatan atau take home pay anggota DPR RI yang mencapai Rp 65 juta per bulan masih tergolong terlalu besar, meskipun sudah ada beberapa komponen tunjangan yang dipangkas atau dihapus.

Peneliti Formappi, Lucius Karus, menyatakan bahwa langkah pemangkasan, seperti penghapusan tunjangan perumahan, patut diapresiasi. Namun, ia menyebut pemangkasan tersebut belum signifikan karena masih banyak pos tunjangan lain yang dinilai tumpang tindih dan berlebihan.

Berdasarkan data yang ada, pendapatan kotor bulanan seorang anggota DPR mencapai lebih dari Rp 74 juta. Setelah dipotong pajak, mereka menerima pendapatan bersih sekitar Rp 65,5 juta, sebuah angka yang menurut Formappi belum sebanding dengan kinerja legislasi yang dihasilkan.

“Meskipun ada tunjangan yang dipangkas, nominal Rp 65 juta itu tetap angka yang fantastis. Pertanyaannya, kenapa DPR tidak berani mengevaluasi tunjangan lain yang juga besar?” ujar Lucius, Sabtu (6/9/2025).

Formappi secara khusus menyoroti beberapa tunjangan yang dianggap tidak efisien dan tumpang tindih. Salah satunya adalah tunjangan komunikasi intensif dengan konstituen yang nilainya mencapai Rp 20 juta per bulan.

Selain itu, Lucius juga mempertanyakan urgensi dari beberapa tunjangan yang tujuannya mirip, seperti tunjangan jabatan dan tunjangan kehormatan, serta sejumlah tunjangan lain yang berkaitan dengan peningkatan fungsi dewan.

“Ada banyak tunjangan yang fungsinya hampir sama. Ini perlu dievaluasi secara menyeluruh agar lebih transparan dan sesuai dengan kebutuhan riil,” tegasnya.

Lebih lanjut, Formappi mendorong adanya evaluasi total terhadap dasar hukum yang mengatur hak-hak keuangan pejabat negara, termasuk anggota DPR. Menurut Lucius, sebagian besar peraturan yang menjadi landasan penetapan gaji dan tunjangan saat ini sudah usang, bahkan ada yang berasal dari tahun 1980-an.

“Aturan dasarnya sudah sangat lama tidak direvisi. Sudah saatnya pemerintah dan DPR menata kembali sistem remunerasi pejabat negara agar lebih adil dan akuntabel,” tutupnya.

Laporan: Marsianus N.N | Editor: Arya

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Ruben Onsu Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan Dana Investasi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan menetapkan artis…
Wapres Gibran Tinjau Pengungsian Gempa Sikka di Stadion Samador, Minta Bantuan Jangkau Wilayah Terisolasi
MAUMERE, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming meninjau…
Atasi Bencana Gempa Flores, Pemprov NTT Kelola Dana Bantuan Rp4,35 Miliar dan Kucurkan Logistik
ENDE, PRANUSA.ID — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Badan…
Bank NTT Cabang Ende Salurkan 100 Paket Sembako dan Terpal untuk Korban Gempa Flores
ENDE, PRANUSA.ID — Gelombang kepedulian bagi masyarakat terdampak bencana gempa…
Peringati HUT ke-78 dan Menuju Dasawindu 2028, SMA Kolese De Britto Resmi Buka PSB TA 2027/2028
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Bertepatan dengan peringatan HUT ke-78 SMA Kolese…