
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID – Komunitas Ibu Berisik menggelar aksi damai dan diskusi publik di Bundaran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jumat (3/7/2026).
Kegiatan ini menjadi wadah protes terhadap kondisi ekonomi nasional yang dinilai sedang memasuki fase kritis akibat melemahnya nilai tukar rupiah.
Inflasi bulanan yang mencapai 0,44 persen dan inflasi tahunan sebesar 3,34 persen pada Juni 2026 dinilai telah mencekik daya beli masyarakat kecil, termasuk pedagang pasar, pengemudi ojek daring, hingga ibu rumah tangga.
Selain harga pangan, komunitas ini menyoroti beban pajak yang dianggap memberatkan rakyat, khususnya aturan PP Nomor 20 Tahun 2026.
Regulasi tersebut dinilai mempersempit kriteria penerima fasilitas tarif PPh Final 0,5 persen bagi pelaku UMKM seperti CV, Firma, dan Bumdes.
Aksi yang dimulai pukul 15.00 WIB ini diramaikan dengan orasi dari mahasiswa UGM, perwakilan pengemudi ojek daring, serta kolaborasi musik bersama Mother Bank.
Di penghujung aksi, peserta menyampaikan tujuh tuntutan melalui pernyataan sikap bertajuk “Liburan Tetap Melawan”.
Tuntutan tersebut mencakup evaluasi pemborosan anggaran negara, pertanggungjawaban pemerintah atas korban jiwa program Makan Bergizi Gratis, serta stabilisasi harga pangan.
“Menurunkan beban pajak yang mencekik rakyat,” tegas perwakilan massa saat membacakan poin tuntutan.
Massa aksi juga mendesak pemerintah untuk memperbaiki nasib pekerja sektor informal, menjamin transparansi PLN, hingga membebaskan tahanan politik.
Kegiatan ditutup pada pukul 17.30 WIB dengan doa bersama yang dipimpin oleh Pendeta Risang Elliarso Anggoro.
Aksi ini diharapkan menjadi pengingat bagi masyarakat untuk terus menjaga kesadaran kritis terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.
Laporan: Angga Riyon N. | Editor: Michael