
JAKARTA, PRANUSA.ID — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan aktivitas gempa bumi susulan akibat pergerakan Sesar Naik Flores di Nusa Tenggara Timur masih akan berlangsung selama dua hingga tiga pekan ke depan sebelum mengalami peluruhan alami.
Hingga Sabtu (15/8/2026) pukul 14.00 WIB, jaringan pemantauan BMKG mencatat sebanyak 235 kali gempa susulan melanda kawasan utara Pulau Flores pascamunculnya gempa utama dangkal bermagnitudo 7,7.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa proses penyesuaian dan stabilisasi sesar aktif tersebut memerlukan waktu tertentu sebelum aktivitas seismiknya kembali normal.
“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” kata Teuku Faisal Fathani dalam keterangannya, Sabtu (15/8/2026).
Faisal membeberkan bahwa gempa utama M 7,7 berkedalaman 15 kilometer tersebut dipicu oleh aktivitas struktur geologi aktif Flores Back Arc Thrust atau Sesar Naik Busur Belakang Flores.
Karena pusat pergerakannya relatif dangkal, peristiwa tektonik ini memicu kerusakan fisik yang cukup berat pada infrastruktur di darat serta memicu gelombang tsunami.
Berdasarkan data tide gauge, gelombang tsunami sempat terobservasi di Reo Manggarai dengan ketinggian puncak mencapai 1,61 meter, serta 0,94 meter di Maurole, Ende, sebelum seluruh peringatan dini diakhiri pada pukul 07.30 WIB.
BMKG mengingatkan bahwa pelepasan energi di jalur sesar ini mengulang kembali sejarah bencana kelam pada 12 Desember 1992 silam yang sempat menelan lebih dari 2.500 korban jiwa di kawasan Maumere.
Menghadapi potensi guncangan yang masih dinamis, BMKG mengimbau seluruh masyarakat di pesisir utara NTT untuk tetap tenang serta menyaring seluruh informasi secara bijak melalui saluran resmi pemerintah.
Laporan: Severinus | Editor: Arya