Gaji Tak Naik 10 Tahun, DPRD DKI Desak Pemprov Naikkan Kesejahteraan Nakes

pranusa.id March 2, 2026

FOTO: Tenaga Kesehatan

JAKARTA – Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta memberikan sorotan tajam terhadap stagnasi gaji tenaga kesehatan (nakes) di ibu kota yang tidak mengalami kenaikan selama satu dekade terakhir.

Sekretaris Komisi E DPRD DKI Jakarta, Justin Adrian Untayana, secara resmi mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI untuk segera merealisasikan penyesuaian gaji bagi para petugas medis tersebut.

Menurut pandangan legislator, besaran penghasilan nakes saat ini sudah tidak lagi sepadan dengan beratnya beban pekerjaan, tingginya risiko profesi, serta lonjakan biaya kebutuhan hidup di Jakarta.

“Dalam rapat hari ini, saya kembali mendesak Pemprov DKI untuk menaikan gaji para nakes yang sudah 10 tahun belum juga naik,” ujar Justin dalam agenda Rapat Kerja Komisi E di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Justin kemudian memaparkan data rasio kecukupan nakes di Jakarta yang dinilai sangat mengkhawatirkan dan masih jauh dari standar ideal Sustainable Development Goals (SDG).

Standar SDG merekomendasikan ketersediaan 4,45 nakes untuk setiap 1.000 penduduk, sementara rasio aktual pelayanan medis di Jakarta saat ini baru menyentuh angka 1,73 nakes.

Kondisi yang terlampau timpang tersebut secara otomatis memaksa para tenaga medis di fasilitas kesehatan Jakarta untuk menanggung beban kerja hingga tiga kali lipat lebih berat dari batas normal.

“Bahkan, rasio tersebut belum memperhitungkan jumlah warga dari luar Jakarta yang menerima KIS (Kartu Indonesia Sehat),” jelas Justin memaparkan realita penumpukan pasien di lapangan.

“Kalau ditambah, maka semakin sedikit lagi jumlah nakes yang harus melayani sekitar 13 sampai 14 juta warga di Jakarta,” sambungnya.

Sebagai penutup argumentasinya, Justin kembali mengingatkan pihak eksekutif Pemprov DKI mengenai besarnya jasa dan pengorbanan para nakes ketika ibu kota dihantam masa kritis pandemi Covid-19.

Berdasarkan data global yang ada, Indonesia bahkan sempat tercatat sebagai negara dengan tingkat kematian tenaga kesehatan tertinggi kelima di dunia selama masa darurat kesehatan tersebut.

Kita juga tidak bisa lupa terhadap pengorbanan yang dilakukan oleh nakes-nakes kita ketika menghadapi pandemi Covid-19. Sudah ada banyak yang gugur dalam menjalankan tugasnya menyelamatkan nyawa orang lain,” pungkasnya.

Laporan: Severinus | Editor: Michael

f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Pesan Natalius Pigai untuk Warga Papua: Boleh Tuntut Kesejahteraan, Asal Tidak Minta Merdeka
NABIRE, PRANUSA.ID — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai…
Kritik Kesejahteraan Pascakemerdekaan, Festival Bantal Galang Donasi Alat Tidur bagi Buruh Gendong Beringharjo
SLEMAN, PRANUSA.ID — Memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik…
Dinas Sosial Kota Yogyakarta Gelar Ziarah Edukatif Pekan “Jejak Patriot” bagi Pelajar
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Dinas Sosial Kota Yogyakarta menggelar kegiatan ziarah…
Sinergi TNI-Polri dan Forkopimda Ende Salurkan 725 Paket Bansos Presiden untuk Korban Gempa
ENDE, PRANUSA.ID — Sebagai wujud kepedulian negara di tengah masyarakat…
81 Tahun Indonesia: Merdeka Sejati atau sekadar “Merdeka-Merdekaan”?
KOLOM— Pada 17 Agustus 2026, masyarakat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan…