Jenazah Corona Sulit Dimakamkan, Tetangga Nyaris Bakar Rumah di Ekuador

pranusa.id March 28, 2020

(Gambar: liputan6.com)

 

PRANUSA.ID — Adanya program pembatasan sosial yang diberlakukan pemerintah menuai banyak kritik. Salah satunya soal bagaimana menyemanyamkan jenazah-jenazah di Ekuador yang beberapa diantaranya adalah korban virus corona atau Covid-19.

Hal ini akhirnya membuat sekitar 100 jenazah belum dapat disemayamkan dan terjebak di rumah keluarga masing-masing. Rosa Romero, salah satu warga Guayaquil turut bercerita tentang kesulitannya ketika hendak memakamkan suaminya yang meninggal karena virus corona.

Tidak ada satu pun mobil jenazah yang dapat menjemput sehingga dengan terpaksa ia menggeletakkan jenazah suaminya di rumah yang mengundang kepanikan tetangga.

Bahkan, ia mengaku bahwa salah satu tetangga sampai mengancam akan membakar rumahnya sekalian apabila ia tidak segera menguburkan jenazah suaminya.

“Salah satu tetangga sampai bilang ke saya, kalau saya tidak segera menguburkan jenazah suami saya, maka rumah saya akan dibakar sekalian,” katanya, Sabtu (28/3/2020).

Tidak hanya Rosa, kejadian tersebut dialami oleh 99 keluarga lainnya. Akhirnya, karena berbagai desakan dan dorongan warga, Kementerian Dalam Negeri menurunkan tim yang khusus menangani jenazah-jenazah, khususnya jenazah virus corona yang terjebak di rumah-rumah keluarga.

Namun, hanya satu mobil, satu tim yang diturunkan pemerintah untuk menjemput jenazah-jenazah di rumah. Tentu saja, proses pengambilan jenazah menjadi lebih lama.

Alhasil, jenazah suaminya harus terjebak lebih dari sehari di dalam rumah. Akan tetapi, Rosa tetap diminta untuk bersabar.

“Mereka kesulitan untuk datang karena mereka sendiri hanya punya satu kendaraan dan itupun harus menangani berbagai tempat,” jelas Rosa.

Menteri Dalam Negeri Paula Romo membenarkan apa yang dikatakan Rosa. “Butuh beberapa hari bagi timnya untuk bisa menjemput dan memakamkan 100 jenazah yang ada,” kata Romo.

Lebih lanjut, Romo mengatakan juga bahwa Otoritas Ekuador sudah memindahkan seluruh (100) jenazah dari Kota Guayaquil dalam tiga hari.

Selain itu, kesulitan lain yang dialami rumah jenazah adalah adanya jam malam, sehingga membatasi waktu kerja rumah jenazah. Padahal, kapan seseorang meninggal dan harus dimakamkan juga tak bisa diatur.

Menurut Romo, sebagian jenazah yang sudah diangkut ada yang positif virus corona dan beberapa yang lain belum pernah di tes sebelumnya. “Jadi, ada beberapa yang tidak masuk daftar korban virus corona,” katanya.

 

*Jessica Cornelia

f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Pesan Natalius Pigai untuk Warga Papua: Boleh Tuntut Kesejahteraan, Asal Tidak Minta Merdeka
NABIRE, PRANUSA.ID — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai…
Kritik Kesejahteraan Pascakemerdekaan, Festival Bantal Galang Donasi Alat Tidur bagi Buruh Gendong Beringharjo
SLEMAN, PRANUSA.ID — Memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik…
Dinas Sosial Kota Yogyakarta Gelar Ziarah Edukatif Pekan “Jejak Patriot” bagi Pelajar
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Dinas Sosial Kota Yogyakarta menggelar kegiatan ziarah…
Sinergi TNI-Polri dan Forkopimda Ende Salurkan 725 Paket Bansos Presiden untuk Korban Gempa
ENDE, PRANUSA.ID — Sebagai wujud kepedulian negara di tengah masyarakat…
81 Tahun Indonesia: Merdeka Sejati atau sekadar “Merdeka-Merdekaan”?
KOLOM— Pada 17 Agustus 2026, masyarakat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan…