KUHP Baru, Menko Yusril: Ada Perbedaan Tegas Antara Kritik dengan Hinaan

pranusa.id January 8, 2026

Yusril Mahendra

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, angkat bicara untuk meredakan kekhawatiran publik terkait penerapan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru yang resmi berlaku sejak awal Januari 2026.

Yusril menegaskan bahwa undang-undang tersebut memisahkan secara tegas antara kritik yang bersifat konstruktif dengan hinaan yang menyerang martabat personal.

Dalam keterangannya di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (7/1/2026), Yusril menjelaskan bahwa masyarakat tidak perlu takut untuk menyuarakan pendapat atau mengkritisi kebijakan pemerintah, karena hal tersebut dijamin oleh undang-undang.

“KUHP yang lama kan sebenarnya jelas betul apa yang dimaksud dengan kritik, apa yang dimaksud dengan penghinaan; dan saya kira tidak akan jauh dari itu,” ujar Yusril.

Menurut Yusril, kritik didefinisikan sebagai penyampaian analisis terhadap suatu persoalan, yang mencakup penjabaran bagian-bagian yang dianggap keliru serta tawaran solusi jalan keluarnya.

Sebaliknya, hinaan adalah tindakan menggunakan kata-kata kasar yang merendahkan martabat orang lain, yang secara etika dan hukum tidak dapat dibenarkan.

“Saya kira nanti akan berkembang melalui yurisprudensi,” tambahnya.

Poin krusial yang ditekankan Yusril adalah sifat delik dalam pasal penghinaan terhadap kepala negara maupun lembaga negara. Dalam KUHP baru, pasal tersebut masuk dalam kategori delik aduan, bukan delik biasa. Artinya, proses hukum hanya bisa berjalan jika pihak yang merasa dihina melaporkan langsung kejadian tersebut, dan tidak bisa diwakilkan oleh pihak lain.

“Kalau dihina si A, ya, si A itu sendiri yang harus melaporkan, tidak bisa pengikutnya, atau pendukungnya, atau stafnya,” tegas Yusril.

Hal yang sama berlaku bagi lembaga negara. Mekanisme pelaporannya pun lebih kompleks karena harus melibatkan keputusan institusional, bukan perorangan.

“Jadi kalau misalnya satu lembaga dihina, lembaga itu yang harus melapor, mengadukan. Bayangkan kalau DPR dihina, misalnya, kan mesti sidang paripurna dulu untuk bertindak sebagai lembaga,” jelasnya.

Senada dengan Yusril, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas sebelumnya juga menyatakan bahwa publik sejatinya sudah memahami batasan etika dalam berdemokrasi. Kritik terhadap kebijakan adalah sah, namun tindakan seperti menyebarkan gambar tidak senonoh kepala negara jelas masuk kategori penghinaan.

“Masak sebagai kepala negara, kepala pemerintahan, ada gambar yang tidak senonoh? Saya rasa teman-teman di publik pun tahu mana yang batasannya menghina maupun yang kritik,” kata Supratman, Senin (5/1/2026).

Laporan: Marsianus | Editor: Kristoforus

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Ruben Onsu Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan Dana Investasi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan menetapkan artis…
Wapres Gibran Tinjau Pengungsian Gempa Sikka di Stadion Samador, Minta Bantuan Jangkau Wilayah Terisolasi
MAUMERE, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming meninjau…
Atasi Bencana Gempa Flores, Pemprov NTT Kelola Dana Bantuan Rp4,35 Miliar dan Kucurkan Logistik
ENDE, PRANUSA.ID — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Badan…
Bank NTT Cabang Ende Salurkan 100 Paket Sembako dan Terpal untuk Korban Gempa Flores
ENDE, PRANUSA.ID — Gelombang kepedulian bagi masyarakat terdampak bencana gempa…
Peringati HUT ke-78 dan Menuju Dasawindu 2028, SMA Kolese De Britto Resmi Buka PSB TA 2027/2028
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Bertepatan dengan peringatan HUT ke-78 SMA Kolese…