Menkeu Gelontorkan Rp10 Triliun untuk 8,8 Juta Pekerja Terdampak PPKM

pranusa.id July 22, 2021

Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani. (Dok. Pikiran Rakyat).

PRANUSA.ID– Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) kembali diperpanjang oleh pemerintah pusat hingga 25 Juli 2021 dalam rangka menekan penyebaran COVID-19. Kali ini, PPKM yang diberlakukan adalah PPKM Level 4. Keputusan ini pun menimbulkan pertanyaan di ranah publik, khususnya terkait dengan nasib para pekerja. Mengingat banyak pemilik usaha yang dipastikan terpukul sejak penerapan berbagai jenis PPKM dan sekarang kembali diperpanjang.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan pemerintah pusat berencana akan menambah anggaran sebesar Rp10 triliun yang ditujukan sebagai perlindungan sosial bagi 8,8 juta pekerja yang terkena dampak penerapan PPKM.

“Kami tadi sudah bahas dengan Ibu Menaker, akan ada dari Rp10 triliun anggaran yang kita tambah untuk pekerja ini, akan ditujukan bagi 8,8 juta pekerja,” jelas Sri Mulyani dalam konferensi virtual di Jakarta, Rabu (21/07/2021).

Rp10 triliun tersebut rencananya akan dialokasikan untuk Bantuan Subsidi Upah (BSU) senilai Rp8,8 triliun dan tambahan dana pelatihan Kartu Pra Kerja sebesar Rp1,2 triliun. Oleh karena itu, Sri Mulyani menjelaskan bahwa dana tambahan untuk perlindungan pekerja yang juga dipakai dalam program BSU. Sebelumnya, dana tersebut direncanakan hanya khusus untuk program Pra Kerja.

Sri Mulyani menegaskan, ada perbedaan fungsi yang mendasar terkait dana tambahan tersebut. Ia merinci BSU digunakan untuk pekerja yang dirumahkan termasuk yang harus dipotong jam kerjanya, sedangkan Kartu Pra Kerja diberikan kepada pekerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Dengan demikian, Sri Mulyani pun berharap agar pelaku/pemilik usaha tidak sampai mengambil keputusan untuk memberikan PHK terhadap pegawainya karena pemerintah akan menggelontorkan insentif.

Adapun kategori pekerja yang akan mendapat BSU ini merupakan pekerja dengan upah Rp3,5 juta per bulannya. Tidak hanya itu, pekerja di sektor non kritikal yang dilarang beroperasi di masa PPKM ini, juga akan mendapatkan bantuan.

“Sehingga ini yang jadi target bantuan subsidi upah pekerja yang tidak di-PHK dan pekerjanya mengalami penurunan penerimaan karena mereka bekerja di sektor non kritikal,” pungkasnya.

 

Laporan: Bagas R

Editor: Bagas R

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Bedah Buku di Bekasi Ungkap Akar Sejarah Panjang Solidaritas Indonesia untuk Palestina
BEKASI, PRANUSA.ID — Kepedulian bangsa Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina…
Sentil Praktik Perjalanan Dinas Fiktif, Gubernur Ria Norsan Peringatkan ASN Kalbar Soal Ancaman Pidana
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Kebiasaan memotong durasi perjalanan dinas tanpa penyesuaian…
Mendagri Tito Karnavian Ungkap Kekhawatiran Penerapan E-Voting pada Pemilu di Indonesia
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pemerintah menegaskan bahwa rencana penggunaan sistem pemungutan…
Candaan Purbaya Usai Dicopot dari Menkeu: Mau Mancing di Belakang Rumah Sambil Ngelamun, “Kenapa Dipecat?”
JAKARTA, PRANUSA.ID — Mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bergurau…
Tegas Tangani Karhutla, Menhut Raja Juli Antoni Bekukan Izin Usaha 3 Perusahaan di Kaltim
JAKARTA, PRANUSA.ID — Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni membekukan…