Pemutaran Film Dokumenter “Di Balik Ilusi Tembakau” Soroti Paradoks Industri Tembakau

pranusa.id August 16, 2026

YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Pemutaran film dokumenter bertajuk “Di Balik Ilusi Tembakau” karya sutradara Wahyu Setiawan sukses digelar di Concert Hall ISI Yogyakarta, Sabtu (15/8/2026).

​Kegiatan pemutaran dan diskusi film yang dimulai pukul 16.00 WIB ini menjadi bagian dari rangkaian Festival Udin 2026 yang berlangsung pada 13–15 Agustus 2026 untuk mengenang wafatnya jurnalis Udin pada 16 Agustus 1996 silam.

​Film dokumenter tersebut mengupas ironi dan paradoks industri hasil tembakau yang dinilai membongkar manipulasi korporasi rokok, mulai dari dampak kecanduan kesehatan masyarakat hingga ketimpangan ekonomi yang dialami para petani.

​Dipandu oleh moderator Dipna Videlia dari AJI Yogyakarta, sesi diskusi menghadirkan pemantik dari berbagai perspektif, yakni Akademisi UGM Yayi Suryo Prabandari, Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Lana Unwanah, petani tembakau Chaziq Mubarok, serta sang sutradara Wahyu Setiawan.

​Dalam pengantarnya, Wahyu Setiawan menegaskan bahwa bahaya fisik akibat kebiasaan merokok tidak dirasakan secara instan, melainkan menjadi ancaman laten di masa depan.

​”Gambaran dampak yang diderita oleh perokok tidak dialami satu atau dua tahun, melainkan akan lebih berdampak 10 hingga 15 tahun setelahnya,” ujar Wahyu.

​Menanggapi penetrasi industri rokok terhadap generasi muda, Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Lana Unwanah membeberkan dinamika penegakan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di wilayahnya.

​”Pada tahun 2017 di Kota Jogja sudah menerapkan Perda KTR, dan pada tahun 2025 penerapan KTR kembali dilakukan di berbagai level masyarakat,” jelas Lana.

​Ia menambahkan bahwa pihak dinas terus gencar melakukan pengawasan di fasilitas kesehatan, sekolah, tempat bermain anak, tempat ibadah, serta melakukan pemberdayaan di tingkat RW.

​Sementara itu, Akademisi UGM Yayi Suryo Prabandari menyoroti perilaku merokok di kalangan mahasiswa serta mendorong kepatuhan ruang publik.

​”Sebagian besar perokok berasal dari mahasiswa, khususnya yang berasal dari luar Jawa, dan dari angka penurunan perokok di Kota Jogja belum maksimal tetapi para perokok sudah tertib karena mereka merokok di kawasan rokok,” ungkap Yayi.

​Dari sisi hulu, petani tembakau Chaziq Mubarok mengeluhkan sistem tata niaga yang dinilai kerap merugikan posisi tawar para petani di lapangan.

​”Petani tembakau sering terkena tipuan tata niaga yakni ketika bahan baku semua naik, harga tembakau justru menurun,” tegas Chaziq.

​Ia menambahkan bahwa cuaca buruk kian memperparah penurunan kualitas tembakau yang berdampak langsung pada merosotnya Harga Pokok Produksi (HPP).

​”Hal ini menimbulkan kerugian bagi petani tembakau karena mereka sudah mengeluarkan modal yang sangat besar dan hasilnya tidak sebanding dengan pendapatan dari penjualan tembakau,” tuturnya.

Laporan: Koleta Stefani S. | Editor: Michael

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Atasi Dampak Psikologis Pasca-Gempa Flores, Polda NTT Siagakan Tim Trauma Healing untuk Anak
ENDE, PRANUSA.ID — Kepolisian Daerah (Polda) Nusa Tenggara Timur bergerak…
Gubernur Ria Norsan Ajak Warga Kalbar Jaga Persatuan dan Sinergi
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Jajaran Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mengikuti jalannya…
BMKG Perkirakan Gempa Susulan Sesar Naik Flores Masih Terjadi hingga Tiga Pekan ke Depan
JAKARTA, PRANUSA.ID — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan…
Gempa Dasyat Guncang NTT, Ketua DPR Puan Maharani Desak Pemerintah Gerak Cepat Tangani Korban dan Wisatawan
JAKARTA, PRANUSA.ID — Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak pemerintah…
Presiden Prabowo Siapkan Ambulans Udara dan Tim Dokter Terbang untuk Daerah Terpencil
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pemerintah Republik Indonesia menyiapkan skema ambulans udara…