
NABIRE, PRANUSA.ID — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menegaskan bahwa masyarakat Papua diperbolehkan untuk menuntut keadilan, kesejahteraan, serta hak-hak dasarnya dari negara, sepanjang tidak menuntut kemerdekaan atau melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Hal tersebut disampaikan Pigai saat melakukan kunjungan kerja di Kantor DPRD Papua Tengah, Nabire, pada Senin (17/8/2026) malam.
Ia menyampaikan bahwa penyampaian aspirasi terhadap berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan tetap dilindungi oleh hukum selama ditempuh melalui jalur yang sesuai dengan konstitusi.
“Yang tidak boleh adalah menyatakan ‘Kami mau merdeka, lepaskan dari Indonesia.’ Tidak boleh. Hal yang lain itu boleh, tidak masalah. Asal dengan cara yang benar namanya membela orang, Undang-Undang melindungi, dan dasar hukumnya jelas,” tegas Pigai di Nabire.
Menurut mantan Komisioner Komnas HAM ini, memperjuangkan masyarakat agar hidup adil, makmur, dan sehat justru merupakan bagian nyata dari pelaksanaan amanat Undang-Undang Dasar 1945.
“Tetapi kalau meminta rakyat Papua sejahtera, adil, makmur, sehat sentosa, itu justru Anda sedang menjalankan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Itu wajib diperjuangkan dengan tutur kata dan perbuatan. Jangan pernah takut menyatakan ketidakadilan,” ujarnya.
Pigai mendorong para anggota legislatif dan elemen masyarakat di Papua Tengah untuk mengutamakan advokasi berbasis bukti dengan memperkuat himpunan data, fakta, serta dokumentasi yang valid agar dapat diproses secara hukum.
Ia juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara institusi penegak hukum dan kekuatan masyarakat sipil di wilayah konflik, termasuk kebutuhan hadirnya advokat atau pengacara yang dapat mendampingi warga.
“Pertanyaannya hakim pasti ada, jaksa pasti ada, polisi pasti ada. Sekarang pembelanya siapa untuk masyarakat? Pengacaranya siapa? Yang mengadvokasinya siapa?” ucapnya.
Menteri HAM mengimbau agar semua pihak di daerah tidak ragu menyuarakan kebenaran serta melahirkan lebih banyak pembela kemanusiaan demi memperkuat akses keadilan bagi seluruh masyarakat Papua.
“Selama kita punya suara, minimal kita berani mengungkapkannya. Munculkan terus pembela-pembela keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan di Papua. Kalau masing-masing bersaing memunculkan pembela kemanusiaan, maka akan muncul matahari keadilan mulai dari Papua Tengah,” pungkas Pigai.
Laporan: Severinus | Editor: Michael