Pra Sidang UN Environment Ke-5, Menteri LHK Sebut Indonesia Bekerja Keras Tanggulangi Sampah Plastik


Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya (Humas KLHK)

Pranusa.ID- Penanggulangan polusi plastik secara global menjadi tantangan tersendiri. Indonesia sebagai bagian dari masyarakat global disebut terus berjuang mewujudkan komitmennya dalam menanggulangi masalah polusi ini. Hal ini disampaikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam momen High Level Dialogue, atas undangan United Nations Environmental Program (UNEP) baru-baru ini.

 

“Indonesia, pada berbagai strata pemerintahan bekerja mewujudkan komitmen global dalam penanggulangan polusi plastik,” ujar Menteri LHK, Siti Nurbaya yang turut menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut.

 

Kegiatan ini diselenggarakan secara virtual dalam rangkaian kegiatan Ministerial Conference on Marine Litter and Plastic Pollution yang dipimpin oleh para convener dari Ekuador, Jerman, Ghana, dan Vietnam. Kegiatan ini juga diikuti oleh 40 pejabat setingkat menteri/wakil menteri bidang lingkungan hidup dan kehutanan, 16 duta besar, serta berbagai pemimpin entitas PBB dan lembaga internasional pemerhati lingkungan.

 

Menteri Siti juga menjelaskan tentang langkah penanganan sampah laut, kehadiran Pusat Pengembangan Kapasitas Kebersihan Laut di Bali, tentang berlakunya _Extended Producer Responsibility_, dan telah dimulainya langkah pendekatan ekonomi sirkular.

 

Indonesia pun mendukung langkah-langkah perundingan kerangka kerja global penanggulangan sampah laut dan polusi plastik yang sedang berlangsung.

 

Pertemuan ini sendiri bertujuan untuk menginisiasi platform negosiasi berdasarkan mandat United Nations Environment Assembly (UNEA) 3/7 dan 4/6, dari UNEA 3 dan UNEA 4 mengenai penanganan sampah laut dan mikro-plastik.

 

Lima poin penting yang diperhatikan untuk inisiasi platform negosiasi tersebut, yaitu bahwa proses negosiasi harus bersifat inklusif dan transparan, upaya peningkatan kapasitas dan pendampingan harus menjadi pilar kunci dalam kerangka kerja yang dibangun, target pengurangan sampah harus memperhatikan kemampuan dan kepentingan masing-masing negara, dan tidak kalah pentingnya bahwa kerangka kerja gobal harus dapat menjamin adanya tahapan transisi yang mulus dan inklusif menuju terbentuknya masyarakat tanpa plastik.

 

Dirjen PSLB3, Rosa Vivien Ratnawati, yang mendampingi Menteri LHK, pada Kamis (2/9/2021) malam, menyampaikan beberapa capaian signifikan yang telah dilakukan Pemerintah.

Sebagai contoh, respon Pemerintah Indonesia terhadap persoalan sampah laut terhitung cepat dan baik melalui penerbitan Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut (National Plan of Action Combating Marine Litter) yang diatur dalam Peraturan Presiden No. 83/2018 tentang Penanganan Sampah Laut. Targetnya, pengurangan sampah laut sebesar 70% pada 2025 melalui Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut (RAN PSL) yang dilaksanakan dalam periode 2018 – 2025. Adapun rencana ini meliputi 5 strategi, 13 program, dan 60 kegiatan yang dalam implementasinya melibatkan 5 kelompok kerja (Pokja) yang berasal dari 17 Kementerian/Lembaga.

 

Sebagai informasi, kegiatan High Level Dialogue ini dilaksanakan dalam rangka menyongsong agenda pertemuan langsung UNEA 5.2 di Nairobi, Kenya, pada 28 Februari – 2 maret 2022, yang juga bertepatan dengan peringatan setengah abad terbentuknya UNEP.

Berita Terkait

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Top