Sepi Pengunjung, Pesta Pangan Lokal Ende Menuai Kritik dari Pelaku UMKM

pranusa.id November 1, 2025

FOTO: Suasana Pesta Pangan Lokal Ende yang sepi pengunjung

ENDE – Pesta Pangan Lokal dan Budaya Zona 3 Flores dengan tema “Melestarikan Rasa, Menjaga Keberagaman Budaya,” yang digelar di Lapangan Pancasila Ende pada 30 hingga 31 Oktober, telah usai.

Namun, kegiatan yang mempertemukan berbagai daerah di Flores ini menyisakan sejumlah catatan kritis dari para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) peserta.

Ketua UMKM Cakrawala Rokatenda Al Hikmah dari Kabupaten Sikka, Pasionista (akrab disapa Ibu Osyn), mengapresiasi inisiatif penyelenggaraan acara tersebut.

“Kami sangat senang dengan diadakan kegiatan seperti ini berarti kembali mengangkat budaya lokal serta ajakan untuk melestarikan warisan leluhur dari berbagai daerah di Flores. Terima kasih kepada pemerintah provinsi atas program baik ini,” ungkap Ibu Osyn.

Sorotan Kritis terhadap Pelaksanaan

Meskipun mengapresiasi, Ibu Osyn menyampaikan beberapa catatan kritis, terutama terkait sepinya pengunjung.

“Kurangnya antusias dari masyarakat Kabupaten Ende, itu dilihat dari pengunjung yang datang sangat sepi. Ini menunjukkan bahwa kurangnya promosi dari tuan rumah kepada masyarakat luas dan persiapan yang serba dadakan,” kritiknya.

Ia juga menyoroti etika pelayanan panitia pelaksana. Ibu Osyn berharap sajian makanan bagi pelaku UMKM yang hadir seharusnya menggunakan pangan lokal itu sendiri, sejalan dengan tema acara.

“Bagaimana kita mau promosikan pangan lokal sedangkan kita sendiri sebagai penggerak tidak mencerminkan itu?” tanyanya. Ia berharap hal ini menjadi bahan evaluasi untuk kegiatan serupa di masa depan.

Minimnya Keterlibatan Pelajar dan Mahasiswa

Hal senada dikemukakan oleh Ketua Kelompok UMKM Nagekeo Bangkit, Ermelinda Sunga. Ia secara khusus menyoroti minimnya partisipasi pelajar dan mahasiswa.

“Ende kita kenal sebagai kota pelajar, kenapa tidak libatkan seluruh mahasiswa dan pelajar apalagi terkait pangan lokal, ini penting. Ada nilai edukasi kepada generasi muda agar mengenal pangan lokal serta mau melestarikannya. Saya yakin banyak generasi muda yang tidak mengenal pangan lokal karena hari ini adalah generasi yang serba instan,” ungkap Ermelinda.

Ermelinda juga merasa kegiatan tersebut terkesan seremonial. “Kegiatannya biasa saja, yang namanya festival gaungnya harus besar dan partisipasi masyarakat sangat banyak. Ini jadi pelajaran ke depan,” pungkasnya.

Ermelinda berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi program rutin yang diadakan secara bergantian di setiap kabupaten di Flores untuk bersama-sama melestarikan warisan budaya lokal.

Laporan: Marsianus N.N | Editor: Kristoforus

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Atasi Bencana Karhutla Nasional, TNI Kerahkan 14.167 Prajurit Bantu Pemadaman di Lapangan
JAKARTA, PRANUSA.ID — Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyiagakan dan mengerahkan…
Kapolri Listyo Sigit Amankan Sejumlah Nama Terduga Pelaku Karhutla di Kalimantan
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal…
Dampak Karhutla di Kalbar: Lima Penerbangan dari Pontianak Delay, Satu Pesawat Dialihkan ke Batam
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Sebaran kabut asap akibat kebakaran hutan dan…
Ruben Onsu Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan Dana Investasi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan menetapkan artis…
Wapres Gibran Tinjau Pengungsian Gempa Sikka di Stadion Samador, Minta Bantuan Jangkau Wilayah Terisolasi
MAUMERE, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming meninjau…