
YOGYAKARTA – SMA Kolese De Britto Yogyakarta memperingati Pesta Nama Santo Yohanes De Britto sebagai pelindung sekolah melalui rangkaian kegiatan yang menegaskan kembali identitas dan nilai spiritual pendidikan Jesuit (Ignatian), pada Selasa (4/2/2026).
Acara yang diikuti oleh seluruh civitas academika dan tamu undangan ini diawali dengan sesi edukasi spiritualitas yang menghadirkan narasumber alumnus, Henoks, seorang pegiat budaya sekaligus perwakilan Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Magelang.
Dalam pemaparannya, Henoks menekankan relevansi spiritualitas Santo Yohanes De Britto dengan keberanian untuk berakar pada budaya lokal.
“Bagi saya, spiritualitas Santo Yohanes de Britto adalah keberanian untuk hadir sepenuhnya di tengah budaya yang kita hidupi. De Britto tidak datang membawa jarak, tetapi mendekat, belajar, dan menjadikan budaya sebagai jalan pengabdian,” ungkap Henoks.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Misa Syukur di Kapel SMA Kolese De Britto yang dipimpin secara konselebrasi oleh Romo Agustinus Sugiyo Pitoyo SJ, Aluisius Dian Permana SJ, dan Agustinus Wahyu Dwi Anggoro SJ.
Dalam homilinya, Romo Wahyu mengingatkan para siswa bahwa keteladanan orang kudus lahir dari ketabahan dalam menghadapi kesulitan, bukan kemudahan hidup.
“Santo Yohanes de Britto, pelindung sekolah kita, tidak menjadi kudus karena jalannya selalu mudah. Ia menjadi teladan justru karena kesetiaannya dalam proses, dalam dinamika yang penuh tantangan, bahkan dalam ketegangan dan ketidakpastian,” tegas Romo Wahyu.
Misa tersebut juga menjadi momen sakral pelantikan Presidium Tahun Ajaran 2026/2027, sebagai simbol pengutusan kepemimpinan siswa yang melayani dengan semangat kesetiaan dan kerendahan hati.
Perayaan ditutup dengan pesta kebun yang penuh keakraban, menandai komitmen sekolah untuk terus mencetak pribadi yang beriman, bernurani, dan siap mengabdi demi kemuliaan Allah yang lebih besar.
Laporan: Judirho | Editor: Michael