
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Lembaga Social Movement Institute (SMI) menggelar konser amal bertajuk “Bangkitlah Kaum Sipil” di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Senin (31/8/2026). Perhelatan ini menjadi puncak dari rangkaian Pameran 100 Tokoh Sipil Penggerak Indonesia yang posternya dipajang secara massal di ruang publik tersebut.
Kegiatan yang terselenggara atas kerja sama SMI dengan YLBHI, Dompet Dhuafa, Kabinet Bayangan, dan LBH Gema Keadilan ini juga ditujukan untuk menggalang donasi bagi korban bencana alam gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pendiri SMI, Eko Prasetyo, menjelaskan bahwa pameran dan konser ini digagas oleh anak-anak muda SMI sebagai bentuk penghormatan kepada para penggerak sipil sekaligus menandai momentum satu tahun terjadinya Tragedi Agustus 2025.
“Kegiatan ini adalah inisiatif dari anak-anak SMI untuk membuat pameran tokoh sipil, ternyata momentumnya tepat setahun dari peristiwa Tragedi Agustus 2025 dan konser amal ini adalah acara puncak dari pameran 100 tokoh tersebut,” ujar Eko Prasetyo.
Acara yang dimulai pukul 15.00 WIB ini diwarnai dengan kehadiran penonton yang mengenakan dresscode serba hitam dan pita merah. Suasana pembukaan dihangatkan dengan penampilan Tarian Ratoe Jaroe asal Aceh yang dipandu oleh pemandu acara, Iroy.
Rangkaian panggung diisi dengan orasi kebudayaan dan kebangsaan oleh Eko Prasetyo serta Ketua YLBHI Muhammad Isnur. Perwakilan BEM SI-Kerakyatan, Brian dan Novi, turut menyampaikan orasi kritis yang membedah pengabaian hak-hak sipil demi kepentingan kekuasaan.
Sesi yang paling menyedot perhatian publik hadir saat novelis dan budayawan Okky Madasari membacakan puisi berjudul Telinga dan Mata. Puisi tersebut menyentil ketimpangan sosial dan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia.
“Telingaku mendengar 19 juta lapangan pekerjaan, tetapi mataku melihat puluhan PHK di mana-mana,” ucap Okky saat melantunkan salah satu bait puisinya di hadapan para penonton.
Panggung hiburan semakin meriah dengan penampilan musik berirama reggae dari Kepal SPI dan kelompok musik Reggae Electronic Rastakrina. Sebagai penutup acara puncak, grup musik indie rock The Brandals tampil membawakan lagu-lagu bernuansa kritik sosial.
Di sela-sela pertunjukan musik, panitia menyebarkan kotak donasi kemanusiaan untuk membantu penanganan korban gempa bumi di NTT. Seluruh rangkaian konser amal berakhir dengan aman dan tertib pada pukul 19.00 WIB.
Laporan: Angga R. N | Editor: Arya