Social Movement Institute Adakan Ngobrol Bareng Bersama Vedi Hadiz

pranusa.id October 2, 2025

YOGYAKARTA – Pakar politik dari University of Melbourne, Vedi R. Hadiz, menyatakan bahwa kekuasaan oligarki di Indonesia saat ini semakin menguat dan tersentralisasi, sehingga cita-cita Reformasi belum sepenuhnya terwujud. Menurutnya, praktik ini telah mengakar sejak era Orde Baru dan kini bertransformasi dalam bentuk baru yang mengancam esensi desentralisasi.

Hal tersebut disampaikannya dalam diskusi bertajuk “Membaca Gerakan Sosial di Indonesia” yang diadakan oleh Social Movement Institute (SMI) di Yogyakarta, Jumat (26/9) malam. Acara ini dihadiri oleh para kader SMI serta mahasiswa dari berbagai universitas.

“Oligarki yang terjadi di Indonesia pada dasarnya sudah ada sejak masa Orde Baru. Kolusi antara pemerintah dengan segelintir kelompok pengusaha sudah terjadi semenjak masa ini,” jelas Vedi dalam pemaparannya.

Ia menilai, perjuangan Reformasi belum dapat dikatakan tuntas. “Yang bebas hanyalah partai politik dan kebebasan kita menyampaikan aspirasi, itu pun tidak semuanya didengar,” tambahnya.

Vedi menyoroti bahwa perkembangan oligarki saat ini cenderung lebih menyempit dan terpusat di tingkat pemerintahan pusat. Hal ini, menurutnya, berisiko melumpuhkan otonomi daerah yang menjadi salah satu amanat Reformasi.

“Kita bisa melihat perkembangan oligarki hingga saat ini. Pemerintahan daerah mulai kehilangan target-target usahanya,” ujarnya.

Ia mencontohkan munculnya gerakan sosial di Pati akibat kenaikan pajak sebagai bukti reaksi daerah terhadap kebijakan yang dirasa tidak adil. Di sisi lain, pemerintah pusat gencar mempromosikan program populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Seakan-akan pemerintah pusat saat ini menjadi populis kepada masyarakat, padahal di belakang itu kekayaan alam Indonesia satu per satu dieksploitasi untuk kepentingan elite pusat,” tegas Vedi.

Diskusi yang dimoderatori oleh Chila, seorang kader SMI, berjalan interaktif dengan sesi tanya jawab. Dalam kesimpulannya, Chila menekankan pentingnya bagi generasi muda dan pengamat politik untuk mampu mengidentifikasi dampak dari proyek-proyek strategis pemerintah terhadap masyarakat.

Acara ini menegaskan kembali perlunya pemetaan kekuatan oligarki secara mendalam dan mendorong gerakan sosial yang lebih terorganisir untuk melawan praktik yang dinilai merugikan kepentingan publik.

Laporan: Angga Riyon Nugroho S.Pd | Editor: Michael

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Rasmidi: Berita Kalbar Jangan Hanya Muncul di Nasional Saat Ada Kejadian Luar Biasa
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Barat (Kalbar),…
Kawal RUU Penyiaran, KPID Kalbar Dorong Aspirasi Media Masuk Pembahasan
PONTIANAK, PRANUSA.ID– Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran menjadi sorotan dalam Focus…
Jenguk Korban Keracunan MBG di Batang, Wapres Gibran Minta Investigasi Dibuka Transparan
BATANG, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Gibran Rakabuming meminta proses investigasi…
PP PMKRI Desak Kepolisian Buka Penyelidikan Pidana Kasus Fasilitas Mewah Lapas Cibinong
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia…
Kejanggalan 13 Rumah di Lapas Cibinong: Pembangunan Tak Tercatat sebagai Aset Milik Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pembangunan 13 unit rumah di kawasan Lapas…