Soroti Intoleransi, Esti Wijayati Dorong Moderasi Beragama

pranusa.id August 1, 2021

Anggota Komisi X DPR RI, Esti Wijayati, saat menjadi narasumber dalam webinar bertajuk Penguatan Pendidikan Karakter Kebangsaan & Moderasi Beragama di Tengah Pandemi, Sabtu (31/07/2021).

PRANUSA.ID– Anggota komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, MY Esti Wijayati mengatakan bahwa moderasi beragama merupakan visi sekaligus kunci untuk menjaga semangat persatuan dan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam Webinar bertajuk Penguatan Pendidikan Karakter Kebangsaan & Moderasi Beragama di Masa Pandemi. Acara ini digelar oleh Lembaga Kajian Pendidikan dan Moderasi Beragama (LKPMB) Indonesia pada Sabtu (31/07/2021).

Dalam kesempatan itu, Esti menyoroti beberapa hal yang menjadi tantangan dalam kehidupan beragama, di antaranya keberadaan cara pandang konservatisme, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

“Saat ini misalnya, muncul beberapa kasus terkait tantangan beragama. Seperti melarang pendirian rumah ibadah, merusak makam agama tertentu, hingga mengganggu pelaksanaan ibadah umat beragama,” ungkap srikandi PDI-P yang merintis karir politiknya dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sleman itu.

Maka dalam kesempatan itu, Esti juga menyinggung soal perlunya evaluasi terhadap Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang pendirian rumah ibadah agar menekan diskriminasi terhadap kelompok agama yang ingin mendirikan tempat ibadahnya.

Bahkan ia menyebutkan ada kasus di mana suatu kelompok agama yang ingin mendirikan rumah ibadah, padahal syarat SKB sudah terpenuhi, namun masih tetap mendapatkan penolakan.

Peraih suara terbanyak dari Dapil DIY pada Pemilu 2019 itu juga menyinggung soal pola eksklusivitas di masyarakat, salah satunya yang terlihat adalah menjamurnya perumahan, kos, yang diperuntukkan kepada kelompok agama tertentu saja. Esti juga membicarakan adanya pola takfiri di mana ada kebiasaan mendeskreditkan orang lain yang berbeda keyakinan atau agama.

“Pola pikir tersebut menyebabkan kelompok tertentu merasa seolah-olah boleh melakukan tindakan kekerasan fisik, selain kekerasan psikologis, dan kekerasan verbal kepada orang lain yang dipandang berbeda,” ujar Esti yang intens melakukan blusukan menemui warga dalam aktivitasnya sebagai wakil rakyat.

Dengan kondisi-kondisi seperti itu, maka Esti menekankan perlunya visi dan solusi untuk mempererat persatuan, menciptakan kerukunan dan kedamaian dalam menjalankan kehidupan keagamaan dan kebangsaan, yakni dengan mengedepankan moderasi beragama.

“Semangat moderasi beragama merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan. Dengan cara inilah masing-masing umat beragama dapat memperlakukan orang lain secara terhormat, menerima perbedaan, serta hidup bersama dalam damai dan harmoni,” tegas Esti.

 

Laporan: Bagas R

Editor: Thom Sembiring

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Rasmidi: Berita Kalbar Jangan Hanya Muncul di Nasional Saat Ada Kejadian Luar Biasa
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Barat (Kalbar),…
Kawal RUU Penyiaran, KPID Kalbar Dorong Aspirasi Media Masuk Pembahasan
PONTIANAK, PRANUSA.ID– Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran menjadi sorotan dalam Focus…
Jenguk Korban Keracunan MBG di Batang, Wapres Gibran Minta Investigasi Dibuka Transparan
BATANG, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Gibran Rakabuming meminta proses investigasi…
PP PMKRI Desak Kepolisian Buka Penyelidikan Pidana Kasus Fasilitas Mewah Lapas Cibinong
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia…
Kejanggalan 13 Rumah di Lapas Cibinong: Pembangunan Tak Tercatat sebagai Aset Milik Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pembangunan 13 unit rumah di kawasan Lapas…