Soroti Tragedi Siswa SD di Ngada, ILUNI UI NTT: Bukti Kegagalan Sistemik Perlindungan Anak

pranusa.id February 6, 2026

FOTO: Surat Terakhir dari Siswa SD Bunuh Diri

KUPANG – Ikatan Alumni Universitas Indonesia Wilayah Nusa Tenggara Timur (Iluni UI NTT) menyampaikan duka cita mendalam sekaligus kritik keras atas tragedi meninggalnya seorang siswa SD berusia 10 tahun di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.

Organisasi ini menilai peristiwa yang terjadi pada 29 Januari 2026 tersebut bukan sekadar tragedi individual, melainkan indikator nyata dari situasi darurat kesejahteraan sosial dan perlindungan anak di NTT.

Dalam pernyataan resminya, Iluni UI NTT menyoroti fakta miris bahwa korban mengakhiri hidup akibat tekanan psikososial karena ketidakmampuan membeli perlengkapan sekolah yang harganya sangat terjangkau.

“Kebutuhan sekolah senilai di bawah Rp10.000 seharusnya tidak pernah menjadi beban mematikan bagi seorang anak,” tulis pernyataan resmi Iluni UI NTT yang diterima redaksi.

Iluni UI NTT membedah tragedi ini sebagai penyingkapan tiga lapisan kegagalan sistemik, yakni lemahnya deteksi dini di tingkat akar rumput, absennya negara dalam memenuhi hak konstitusional, serta ketiadaan dukungan pekerja sosial profesional di desa.

“Peristiwa ini menjadi bukti kegagalan sistemik perlindungan anak dan indikator darurat kesejahteraan sosial di Nusa Tenggara Timur,” tegas pernyataan tersebut.

Merespons kondisi ini, Iluni UI NTT mendesak Pemerintah Provinsi NTT dan Kabupaten Ngada untuk segera mengaktifkan Sistem Perlindungan Anak Berbasis Desa dengan posko terpadu serta mengalokasikan anggaran untuk rekrutmen pekerja sosial desa.

Kepada pemerintah pusat, mereka mendorong adanya audit mendalam terhadap efektivitas program bantuan sosial (bansos) dan percepatan integrasi data keluarga rentan dengan sistem peringatan dini di sekolah.

Selain itu, Iluni UI NTT juga mendesak implementasi konkret Putusan Mahkamah Konstitusi No. 3/PUU-XXII/2024 mengenai kewajiban negara menyelenggarakan pendidikan dasar gratis guna mencegah tekanan ekonomi pada keluarga siswa.

“Setiap anak yang meninggal karena sistem yang mengabaikannya adalah cermin kegagalan kolektif kita sebagai bangsa,” pungkas Iluni UI NTT.

Laporan: Marsianus | Editor: Rivaldy

f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Pesan Natalius Pigai untuk Warga Papua: Boleh Tuntut Kesejahteraan, Asal Tidak Minta Merdeka
NABIRE, PRANUSA.ID — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai…
Kritik Kesejahteraan Pascakemerdekaan, Festival Bantal Galang Donasi Alat Tidur bagi Buruh Gendong Beringharjo
SLEMAN, PRANUSA.ID — Memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik…
Dinas Sosial Kota Yogyakarta Gelar Ziarah Edukatif Pekan “Jejak Patriot” bagi Pelajar
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Dinas Sosial Kota Yogyakarta menggelar kegiatan ziarah…
Sinergi TNI-Polri dan Forkopimda Ende Salurkan 725 Paket Bansos Presiden untuk Korban Gempa
ENDE, PRANUSA.ID — Sebagai wujud kepedulian negara di tengah masyarakat…
81 Tahun Indonesia: Merdeka Sejati atau sekadar “Merdeka-Merdekaan”?
KOLOM— Pada 17 Agustus 2026, masyarakat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan…