
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Aksi Kamisan Yogyakarta kembali menggelar aksi damai bertajuk “Menolak Lupa September Hitam” di kawasan Tugu Golong Gilig, Yogyakarta, Kamis (10/9/2026).
Aksi yang dimulai pukul 16.00 WIB ini diwarnai pembentangan spanduk serta aksi diam mengenakan pakaian serba hitam guna memperingati deretan tragedi pelanggaran HAM yang terjadi di bulan September, mulai dari kasus Munir Said Thalib, Tragedi Tanjung Priok, Semanggi II, hingga pembunuhan Pendeta Yeremia.
Koordinator aksi, Yadi, menegaskan bahwa penuntasan kasus pelanggaran HAM masa lalu hingga peristiwa terkini seperti penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus menunjukkan fakta bahwa praktik impunitas masih terus terjadi.
“Peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi di bulan September dan kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus merupakan bukti impunitas terhadap pelanggaran HAM masih terjadi di sekitar kita,” kata Yadi di sela-sela aksi.
Dalam sesi orasi melingkar, salah satu orator aksi, Asgar, menyerukan pentingnya generasi muda meneladani sosok Munir sebagai subjek militan yang konsisten memperjuangkan keadilan dan hak asasi manusia.
Sementara itu, kreator konten Virdian Aurellio mengkritik keras kebijakan pemerintah yang dinilai tidak memprioritaskan pendidikan tinggi gratis serta akses lapangan kerja yang adil bagi generasi muda di tengah meluasnya praktik nepotisme.
“Sial menjadi orang muda di Indonesia saat ini, ketika berkuliah berujung pada penyumbang pengangguran di negara ini,” tegas Virdian dalam orasinya.
Rangkaian aksi damai yang ditujukan untuk merawat ingatan kolektif generasi muda terhadap peristiwa sejarah kelam bangsa tersebut diakhiri dengan foto bersama dan resmi dibubarkan secara tertib pada pukul 18.00 WIB.
Laporan: Angga R.N | Editor: Michel