Banjir Lagi, Sutarmidji Tagih Kewajiban Pusat untuk Keruk DAS Kapuas

pranusa.id October 18, 2022

FOTO: Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji.

PRANUSA.ID– Gubernur Kalbar, Sutarmidji menilai bahwa salah satu penyebab bencana banjir yang kerap berulang di wilayah perhulun Kalbar lantaran disebabkan oleh pendangkalan sungai yang terjadi.

Oleh karenanya ia meminta kepada pemerintah pusat untuk segera menunaikan kewajibannya melakukan pengerukan di Daerah Arus Sungai (DAS) Kapuas dan persimpangan Sungai Kapuas serta Sungai Melawi di Kabupaten Sintang sebagai solusinya.

“Banjir ini masalah bagi kita (Kalbar) karena sudah meluas dan setiap tahun terjadi. Satu-satunya cara pusat harus melaksanakan kewajibannya dengan mengeruk alur Sungai Kapuas dan persimpangan (sungai) Melawi, kalau tidak maka setiap tahun akan semakin meluas,” ungkapnya kepada awak media, Jumat (14/10/2022).

Sutarmidji bahkan mengaku, bahwa pengerukan DAS Kapuas tersebut telah diusulkannya kepada pemerintah pusat sejak setahun lalu. Namun hingga kini belum direspon oleh pusat.

“Saya sudah mengusulkan untuk pengerukan. Masalah biaya mahal itu bukan urusan kita (Kalbar), ini tanggung jawab mereka (pemerintah pusat),” tegasnya.

Orang nomor wahid di Bumi Tanjungpura itu lantas membeberkan kondisi muara Sungai Kapuas yang tiap tahun semakin dangkal. Sekitar 10 tahun lalu, ia menyebut muara yang terhubung langsung ke Selat Karimata itu hanya memiliki kedalaman di atas tujuh meter ketika air surut.

Tapi saat ini, diperkirakan kedalamannya hanya tinggal lima meter saja. Artinya sudah ada pendangkalan sekitar dua meter dari kondisi sebelumnya.

“Pendangkalan dua meter, artinya air tempatnya dua meter tidak ada, maka dia (air) diam di darat, itu hukum alam,” jelasnya.

Ditambah lagi kondisi topografi Sungai Kapuas yang sangat landai, dimana saat ini ketinggiannya hanya sekitar 38 meter, sementara panjang sungai itu mencapai sekitar 1.134 kilometer. Itulah mengapa air yang turun ke muara atau ke laut lepas menjadi lamban.

“Beda dengan sungai di Jawa yang untuk surut air cepat, kalau ini (Kapuas) tidak. Asal hujan tambah lagi, air pasang, sudah (banjir). Sekarang yang paling parah Ketapang, Sintang,” ujarnya.

“Melawi katanya sudah surut, Sekadau, Sanggau, kalau air di Melawi sudah turun, maka mereka berdampak, termasuk Kubu Raya,” timpalnya.

Selain itu, Sutarmidji juga sempat menyinggung soal keberadaan pertambangan bauksit yang dinilai turut berdampak besar terhadap penurunan lahan. Dengan luas izin mencapai 25 juta meter persegi se-Kalbar, jika dalam satu tahun terjadi penurunan satu meter saja, artinya sudah ada 25 juta meter.

“Kalau 10 tahun, berapa banyak itu yang tidak dihitung (penurunan lahan). Yang kita dapat (dari pertambangan) tidak sebesar itu, tetapi ketika banjir, yang rugi masyarakat, pemerintah daerah dan lainnya,” pungkasnya.\

Laporan: Severinus THD

Editor: Jessica C. 

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Presiden Prabowo Ancam Cabut Hak Guna Usaha Korporasi yang Terbukti Terlibat Karhutla
JAKARTA, PRANUSA.ID — Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajaran Kepolisian Negara…
Menkeu Purbaya Tunggu Hitungan BNPB untuk Tambahan Anggaran Mitigasi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih menunggu…
Dua Prajurit TNI Penyiram Air Keras Batal Dipecat, Menteri Pigai Dorong Pengacara Andrie Yunus Ajukan Kasasi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai…
Perkuat Operasi Terpadu Karhutla Kalbar, Kemenhut Gelontorkan DAK Rp5,5 Miliar
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Pemerintah menyiapkan dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK)…
Jaga Stabilitas Harga, Bulog Pasok 110 Ribu Ton Beras ke Pasar dan Ritel Modern
JAKARTA, PRANUSA.ID — Perum Bulog menyiapakan pasokan sebanyak 110.000 ton…