Pengamat Ekonomi Untan Ali Nasrun Ikut Angkat Suara Terkait Kelangkaan Gas Elpiji 3 Kg di Pontianak | Pranusa.ID

Pengamat Ekonomi Untan Ali Nasrun Ikut Angkat Suara Terkait Kelangkaan Gas Elpiji 3 Kg di Pontianak


(Gambar: jitunews.com)

 

PRANUSA.ID — Kebijakan konversi minyak tanah ke gas LPG (Liquid Petroleum Gas) yang kemudian disebut elpiji, pertama kali diluncurkan oleh pemerintah RI pada awal tahun 2007.

Hal tersebut dilatarbelakangi cadangan bahan bakar minyak dunia yang semakin menipis dengan harga minyak mentah internasional cenderung melonjak tajam.

Sejak gas elpiji diluncurkan, masyarakat Indonesia yang awalnya kontra dengan kebijakan pemerintah justru mulai terbiasa dan akhirnya ikut menikmati penggunaannya dalam keperluan rumah tangga sehari-hari.

Namun, lagi-lagi muncul masalah yang mendera masyarakat. Hal itu terkait dengan kelangkaan gas elpiji, khususnya gas elpiji 3 kg.

Menurut Pengamat Ekonomi Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Ali Nasrun, ada dua penyebab mengapa semakin hari gas elpiji 3 kg semakin langka.

Pertama, pertambahan jumlah penduduk. Kedua, karena semakin banyaknya pengguna beralih menggunakan gas elpiji 3 kg.

Hal ini dikarenakan dibandingkan gas non subsidi, gas elpiji memiliki selisih harga yang lumayan bagi ibu-ibu.

Namun, Pertamina tidak dapat sembarang menambah stok. Hal ini tergantung kembali dengan dana yang disediakan pemerintah untuk subsidi.

Menurutnya, kelangkaan juga terjadi disebabkan jumlah yang tersedia tidak memenuhi permintaan. Sementara, permintaan tidak ada batasan. Jadi, persediaan dibatasi subsidi.

Sementara itu, mulai hari Kamis (31/10/2019) hingga dua hari ke depan, Pertamina Marketing Operation Region (MOR) VI bersama Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) Kota Pontianak akan menggelar operasi pasar.

“Operasi pasar ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan LPG 3 kg di lapangan dan memastikan pembelinya adalah masyarakat yang berhak atas LPG subsidi tersebut,” jelas Region Manager Comm, Rel & CSR Kalimantan Heppy Wulansari dalam keterangan tertulis, Kamis (31/10/2019).

Adapun sasaran dari kegiatan tersebut adalah Pasar Kemuning, Pasar Flamboyan, Pasar Dahlia, Pasar Puring, dan Pasar Kenanga Anggrek di Kota Pontianak.

Pertamina turut mengambil bagian dalam memastikan distribusi elpiji 3 kg ini tepat sasaran. Caranya adalah dengan sidak berkala dan penertiban pembelian elpiji 3 kg di pangkalan.

Dari sidak tersebut, ada 3 lokasi rumah makan mendapatkan 99 tabung elpiji 3 kg yang tidak sesuai peruntukan. Oleh karena itu, rumah makan tersebut langsung diminta melakukan penukaran (trade in) ke elpiji non subsidi.

Gas elpiji 3 kg yang disiapkan oleh Pertamina untuk Kalimantan Barat sendiri adalah sebanyak 121.526 matrix ton atau 121.526.000 kg, dengan jumlah tabungnya 40.508.667 untuk 14 kabupaten kota.

Melalui 12 agen, Pertamina menyediakan 10.640 tabung untuk operasi pasar di Kota Pontianak tersebut.

Sementara itu, rata-rata konsumsi harian Kota Pontianak adalah 21.480 tabung dengan realisasi penjualan tanggal 29-30 Oktober 2019 masing-masing sebanyak 21.840 tabung dan 21.280 tabung yang disalurkan melalui 248 pangkalan di Kota Pontianak.

Jadi, PT. Pertamina telah menyalurkan apa yang menjadi tugas Kementerian ESDM melalui Dirjen Migas sesuai kuota. Oleh karena itu, Pertamina saat ini harus mengawasi pangkalan dengan tanggung jawab.

 

Penulis: Cornelia

Berita Terkait

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Top