Kabar Bahagia untuk Petani di Kalbar: Harga Sawit Terus Menguat

pranusa.id April 3, 2022

Ilustrasi: Hasil Sawit.

PRANUSA.ID– Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat, Muhammad Munsif mengatakan, harga sawit terus mengalami kenaikan. Bahkan, harganya kini merupakan rekor tertinggi.

Saat ini di Kalbar, harga Tanda Buah Segar (TBS) sawit umur 10 – 20 tahun untuk periode II Maret 2022 sudah mencapai Rp4.041,45 per kilogram. Nilai ini merupakan harga tertinggi berdasarkan hasil penetapan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar.

“Harga sawit terus mengalami tren kenaikan dan untuk periode II Maret 2022 ini merupakan rekor tertinggi untuk TBS sawit dan produk lainnya. Sejak tahun lalu dan awal 2022 ini harga TBS sawit paling tinggi di angka Rp3.000 per kilogram dan kini sudah tembus Rp4.000 per kilogram,” ujar Muhammad Munsif, seperti dilansir Antara, Sabtu 2 April.

Ia menambahkan, untuk harga CPO atau minyak mentah sawit sendiri periode II Maret 2022 juga tembus di angka Rp17.049,44 per kilogram. Periode I Maret 2020 sebelumnya hanya Rp15.534,25 per kilogram.

“Untuk inti sawit atau PKO juga naik di mana periode sebelumnya Rp12,727,14 dan periode periode II Maret 2022 sudah mencapai Rp13.590,95 per kilogram. Kenaikan harga sawit dipengaruhi beberapa faktor di antara permintaan dalam dan luar negeri meningkat dan jumlah produksi,” jelas dia.

Kenaikan harga ini jelas disambut gembira para petani sawit. Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir) Kalbar, YS Marjintan mengatakan, para petani semakin bergairah karena pendapatan meningkat. Tentunya kenaikan harga sawit ini juga bisa mendorong kesejahteraan petani.

“Harga yang naik dan terus bertahan dengan harga sesuai harapan petani. Harga naik petani jadi semangat dan bisa meningkatkan kesejahteraan petani tentunya,” kata dia.

Ia menambahkan, dengan harga semakin baik, minat untuk budidaya sawit semakin meningkat pula. Baik yang ikut dalam program PSR yang dicanangkan pemerintah, maupun secara swadaya. Hal itu terbukti meningkatnya permintaan bibit siap edar.

“Namun satu hal yang perlu perhatian pemerintah yaitu pada satu sisi harga sawit tinggi namun di sisi lainnya harga pupuk dan serta herbisida naik juga. Hal itu menjadi biaya produksi meningkat,” papar dia.

 

Laporan: Bagas R

Editor: Jessica C. Ivanny

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Bedah Buku di Bekasi Ungkap Akar Sejarah Panjang Solidaritas Indonesia untuk Palestina
BEKASI, PRANUSA.ID — Kepedulian bangsa Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina…
Sentil Praktik Perjalanan Dinas Fiktif, Gubernur Ria Norsan Peringatkan ASN Kalbar Soal Ancaman Pidana
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Kebiasaan memotong durasi perjalanan dinas tanpa penyesuaian…
Mendagri Tito Karnavian Ungkap Kekhawatiran Penerapan E-Voting pada Pemilu di Indonesia
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pemerintah menegaskan bahwa rencana penggunaan sistem pemungutan…
Candaan Purbaya Usai Dicopot dari Menkeu: Mau Mancing di Belakang Rumah Sambil Ngelamun, “Kenapa Dipecat?”
JAKARTA, PRANUSA.ID — Mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bergurau…
Tegas Tangani Karhutla, Menhut Raja Juli Antoni Bekukan Izin Usaha 3 Perusahaan di Kaltim
JAKARTA, PRANUSA.ID — Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni membekukan…