
BEKASI, PRANUSA.ID — Kepedulian bangsa Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina dipastikan bukanlah fenomena baru yang muncul akibat algoritma media sosial, melainkan ikatan sejarah mendalam yang diwariskan oleh ulama Nusantara hingga founding fathers Indonesia.
Akar historis tersebut diulas secara mendalam dalam acara Empower Youth Book Talk yang membedah buku Akar Sejarah Solidaritas Indonesia-Palestina di Typica Coffee, Bekasi, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan diskusi kolaboratif yang diinisiasi oleh Jejak Islam untuk Bangsa, Ummatica, PC Pemuda Muhammadiyah Jatiasih, dan PC Nasyiatul Aisyiyah ini menghadirkan penulis Beggy Rizkiansyah serta pegiat literasi Fajar Sadikov sebagai pengulas.
Sebagai penulis buku, Beggy Rizkiansyah menjelaskan bahwa jejak kecintaan terhadap Palestina bahkan sudah tertanam sejak era Wali Songo melalui pendirian Kota Kudus dan Masjid Al-Aqsa (Menara Kudus) di Jawa Tengah.
“Kalau dibilang Palestina itu baru-baru aja, enggak juga sih sebetulnya. Ada warisan ulama yang sudah lama banget yang tentang Palestina tuh ada di Indonesia, dan itu menariknya sebuah kota namanya Kudus. Kudus itu dari asal kata Al-Quds, makanya masjidnya nama masjidnya Masjid Al-Aqsa sebetulnya, dan itu didirikan oleh Sunan Kudus waktu itu di abad ke-16,” ujar Beggy.
Ia juga menyoroti peran kunci tokoh pemuda Muhammadiyah, K.H. Abdul Kahar Muzakir, yang pada tahun 1931 menjadi orang Indonesia pertama yang memegang posisi strategis dalam diplomasi Islam internasional untuk Palestina.
“Kia Haji Abdul Kahar Muzakir inilah orang pertama yang kenapa dia bisa terlibat dalam solidaritas itu. Tahun 30-an dia kuliah di Darul Ulum Mesir, K.H. Abdul Kahar Muzakir ini bukan cuma penggembira, tapi dia menjadi sekretaris kongres. Peran dia penting banget, orang Muhammadiyah jadi sekretaris kongres,” tegas Beggy.
Lebih lanjut, Beggy menerangkan bahwa tokoh-tokoh bangsa Indonesia sejak era pra-kemerdekaan hingga pasca-kemerdekaan memandang kebijakan zionisme sebagai bentuk kolonialisme yang merampas tanah air bangsa lain.
“Para tokoh-tokoh bangsa ini sudah menentukan Israel ini adalah soal rasialisme dan kolonialisme. Ini bukan cuma soal kemanusiaan, tapi ini soal penjajahan dan rasisme. Kenapa ada bangsa kita yang bahkan bukan orang Islam pun mendukung Palestina? Ya karena ini soal sama penjajah. Kita nih bangsa yang terjajah, kita tahu rasanya dijajah gimana,” tuturnya.
Beggy menambahkan bahwa dorongan pembelaan terhadap Palestina tumbuh secara organik dari arus bawah (grassroot) masyarakat sebelum akhirnya ditegaskan menjadi sikap resmi pemerintah.
“Di Indonesia kepedulian terhadap Palestina ini dukungan dari bottom-up, dari grass root dulu, dari masyarakat dulu, dari ulama, dari tokoh-tokoh Islam, kemudian mereka menekan pemerintahnya dan pemerintahnya punya sikap. Karena sama-sama antikolonialisme, anti penjajahan,” imbuh Beggy.
Merespons pertanyaan terkait penggunaan istilah, Beggy menuturkan alasan sosiologis di balik pemilihan kata ‘solidaritas’ dalam karyanya, yakni untuk merangkul spektrum pembaca yang lebih luas dari berbagai latar belakang.
“Kita pakai kata solidaritas untuk mencakup pembaca yang lebih luas, karena di sini tidak hanya berbicara tentang tokoh Islam, tapi juga tokoh-tokoh di luar Islam atau dengan ideologi bukan Islam. Untuk merangkul pembaca audiens lebih luas,” jelas Beggy.
Menanggapi pemaparan naskah sejarah tersebut, pengulas Fajar Sadikov memberikan apresiasi tinggi terhadap pembuktian sejarah dalam karya ini yang dinilainya memberikan landasan riset ilmiah kokoh bagi para aktivis dan generasi muda.
“Buku ini jelas punya uniqueness dan novelty, ada kebaruan penelitian atau kebaruan temuan, betul-betul berasal dari riset. Buku ini meletakkan pondasi sejarah, sangat mengakar. Selain radikal, juga fundamentalis sekali karena berbicara secara funden, secara akar, secara filosofis,” ungkap Fajar.
Fajar kemudian menggunakan metode kritik sejarah (Annaqadd at-Tarikh) ala Ibnu Khaldun untuk menguji terminologi yang digunakan dalam narasi sejarah hubungan Indonesia-Palestina, khususnya perbedaan antara konsep ‘solidaritas’ dan ‘ukhuwah‘.
“Dalam perspektif Islam, solidaritas merupakan salah satu manifestasi eksternal dari satu relasi yang lebih mendasar, yaitu ukhuwah. Kalau solidaritas itu relationship of support, tetapi kalau ukhuwah relationship of brotherhood. Ketika ukhuwah, kamu adalah saudaraku, penderitaanmu bukanlah hal eksternal bagiku,” papar Fajar.
Fajar juga mengkritisi penggunaan istilah ‘pan-Islamisme’ yang sering dirujuk dari kacamata sejarawan kolonial Barat.
“Istilah pan-Islamisme itu kebanyakan datang dari para sejarawan kolonial. Istilah-istilah yang dibawa oleh para penulis dan para pemikir Islam pada saat itu sebenarnya al-wahdah al-islamiyah, al-islah, tajdid, atau ittihadul ummah,” tambah Fajar.
Sejalan dengan hal tersebut, pengulas Fajar Sadikov menggarisbawahi bahwa ajaran Islam dan nilai kebangsaan Indonesia senantiasa mendorong setiap muslim untuk bervisi global serta membela kemanusiaan universal.
“Ketika berbicara perang Palestina bukan perang agama, Islam tidak pernah membawa agama untuk mensegregasi ruang, Islam itu justru malah menjadi rahmatan lil alamin. Menjadi seorang muslim itu harus bervisi global. Dia tidak peduli di mana pun saudaranya berada, itu adalah bagian dari dirinya,” tegas Fajar.
Laporan: Fajar Shadiq | Editor: Arya