Divonis 1075 Tahun Penjara, Harun Yahya Ternyata Tak Hanya Terlibat Skandal Seks

pranusa.id January 12, 2021

Adnan Oktar, atau yang dikenal sebagai Harun Yahya, bersama pengikutnya. [Hriyet Daily News]
PRANUSA.ID — Hakim pengadilan Turki menjatuhkan hukuman penjara 1.075 tahun kepada sosok penceramah Muslim Adnan Oktar atau Harun Yahya lantaran terbukti melakukan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap orang di bawah umur, serta mencoba memata-matai pemerintah dalam hal politik dan militer, Senin (11/1/2021).

Dilansir AFP, aparat penegak hukum Turki berhasil menemukan 69 ribu pil KB di kediaman Oktar. Meski begitu, Oktar sempat berdalih bahwa pil itu digunakan untuk mengobati kelainan di kulit dan menstruasi.

Menurut pengakuan seorang saksi korban berinisial CC, Oktar kerap memperkosa dan melecehkan dia dan sejumlah perempuan lain. Setelah itu, Oktar akan memaksa mereka meminum pil kontrasepsi.

Dilansir CNN Indonesia, nama Oktar pertama kali mencuri perhatian kala ia menjadi pemimpin sekte yang terjebak dalam berbagai skandal seks pada 1990-an silam.

Selain itu, Oktar juga banyak menulis buku-buku berisi teori konspirasi tentang kreasionisme dan freemasonry dengan menggunakan nama pena Harun Yahya.

Harun Yahya merupakan gabungan nama dua nabi, yakni Nabi Harun dan Nabi Yahya. Hal ini yang kemudian membuat pria kelahiran 2 Februari 1956 itu dikenal sebagai seorang kreasionis.

Meski begitu, Oktar lebih dikenal puluhan tahun kemudian ketika ia meluncurkan stasiun televisi miliknya, A9, yang pada 2011 lalu.

Dalam program televisinya tersebut, Oktar membahas nilai-nilai Islam dengan dikelilingi sejumlah perempuan menari-nari dalam seluruh kegiatan dan ceramahnya.

Sesekali Oktar sendiri ikut menari dengan wanita muda yang disebutnya “anak kucing” dan bernyanyi dengan pria muda yang disebutnya “singa”.

Hal itu lantas mengundang kecaman dari para pemuka agama Islam di Turki hingga akhirnya, pada Februari 2018, pengawas TV Turki menangguhkan program TV Oktar karena melanggar kesetaraan gender dan hak-hak perempuan. *(Crn)

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Bedah Buku “Legislative Inaction”: Menyoroti Lemahnya Peran Legislatif di Indonesia
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Social Movement Institute (SMI) menggelar kegiatan bedah…
Kesaksian Dosen di Sidang MK: Gaji Pokok Di Bawah UMK, Hingga Terpaksa Jualan di Car Free Day
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kisah memilukan diungkapkan oleh Imam Ahmad, seorang…
Ketua Komisi VIII DPR RI Buka Peluang RUU Pidana LGBT, Sebut Perilaku Menyimpang sebagai Ancaman Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID – Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang…
Aksi “Ibu Berisik” di Bundaran UGM: Suarakan Persoalan Inflasi hingga Pajak Mencekik
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID – Komunitas Ibu Berisik menggelar aksi damai dan…
Ribuan Pelayat Tuntut Balas Dendam ke AS dan Israel Atas Kematian Ayatollah Ali Khamenei
TEHERAN, PRANUSA.ID – Ribuan pelayat memadati upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi…