Studi Penelitian: Social Distancing Tanpa Vaksin dan Obat Bisa Diperlakukan Hingga 2022

pranusa.id April 16, 2020

(Ilustrasi: solopos.com)

 

PRANUSA.ID — Berdasarkan studi yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah dari Harvard University, jika penerapan social distancing yang berselang-seling tanpa adanya vaksin atau obat farmasi yang mampu menyembuhkan virus corona, maka diperkirakan dibutuhkan waktu hingga tahun 2022 mendatang.

“Jarak yang terputus-putus (berselang-seling) mungkin diperlukan hingga tahun 2022 kecuali jika kapasitas perawatan kritis meningkat secara substansial atau pengobatan atau vaksin (telah) tersedia,” ungkap para peneliti dalam studi tersebut.

Untuk itu, mereka berpendapat bahwa penerapan langkah-langkah jarak sosial yang dilakukan hanya satu kali dapat mengakibatkan “epidemi puncak tunggal berkepanjangan” yang melelahkan sistem perawatan kesehatan.

Penelitian tersebut juga mengungkapkan adanya ketergantungan yang tinggi antara kejadian infeksi akibat Covid-19 selama lima tahun ke depan dengan sirkulasi teratur setelah gelombang pandemi di awal, sehingga akhirnya tergantung kembali pada durasi kekebalan yang diberikan oleh infeksi Sars-Cov-2 tersebut.

Selain itu, berkaitan dengan virus corona novel (saat ini), para peneliti mempelajari virus corona lain yang menyebabkan Covid-19 mensimulasikan sejumlah hasil potensial untuk pandemi saat ini.

Adapun simulasi transmisi (penularan) yang dimaksud studi penelitian tersebut dapat ditemukan pada:

1. Semua skenario model, SARS-CoV-2 mampu menghasilkan wabah besar terlepas dari waktu pembentukan.

2. Sama seperti pandemi influenza, banyak skenario menyebabkan SARS-CoV-2 memasuki sirkulasi jangka panjang bersama dengan virus beta corona manusia lainnya.

3. Variasi musiman yang tinggi dalam penularan menyebabkan insiden puncak yang lebih kecil selama gelombang pandemi awal tetapi wabah musim dingin dapat berulang yang lebih besar.

4. Kekebalan jangka panjang secara konsisten menyebabkan eliminasi efektif SARS-CoV-2 dan insiden infeksi keseluruhan yang lebih rendah.

5. Tingkat kekebalan silang yang rendah dari virus beta corona lain terhadap SARS-CoV-2 dapat membuat SARS-CoV-2 tampak mati, hanya untuk muncul kembali setelah beberapa tahun* (Cornelia/Pranusa)

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Bedah Buku “Legislative Inaction”: Menyoroti Lemahnya Peran Legislatif di Indonesia
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Social Movement Institute (SMI) menggelar kegiatan bedah…
Kesaksian Dosen di Sidang MK: Gaji Pokok Di Bawah UMK, Hingga Terpaksa Jualan di Car Free Day
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kisah memilukan diungkapkan oleh Imam Ahmad, seorang…
Ketua Komisi VIII DPR RI Buka Peluang RUU Pidana LGBT, Sebut Perilaku Menyimpang sebagai Ancaman Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID – Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang…
Aksi “Ibu Berisik” di Bundaran UGM: Suarakan Persoalan Inflasi hingga Pajak Mencekik
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID – Komunitas Ibu Berisik menggelar aksi damai dan…
Ribuan Pelayat Tuntut Balas Dendam ke AS dan Israel Atas Kematian Ayatollah Ali Khamenei
TEHERAN, PRANUSA.ID – Ribuan pelayat memadati upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi…