
BRUSSELS, PRANUSA.ID – Sejumlah maskapai penerbangan di Eropa mulai membatalkan dan memangkas rute penerbangan akibat lonjakan harga bahan bakar pesawat jet yang membuat sebagian perjalanan tidak lagi menguntungkan secara finansial.
Kondisi tersebut dipicu oleh meningkatnya tekanan biaya operasional di tengah gejolak global serta rentetan konflik yang terjadi di wilayah Timur Tengah.
Komisioner Transportasi Uni Eropa Apostolos Tzitzikostas mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada krisis pasokan bahan bakar pesawat di kawasan Uni Eropa.
Meskipun demikian, ia mengakui bahwa tren kenaikan harga avtur tersebut mulai berdampak secara langsung terhadap jalannya operasional perusahaan maskapai penerbangan.
“Sejauh ini tidak ada krisis bahan bakar pesawat jet di Uni Eropa, tidak ada indikasi akan terjadi kekurangan dalam waktu dekat, masalah sesungguhnya saat ini adalah kenaikan harga bahan bakar dan ini menyebabkan cukup banyak maskapai penerbangan membatalkan perjalanan tertentu yang tidak lagi layak secara finansial mengingat kenaikan harga bahan bakar,” kata Tzitzikostas dalam konferensi pers di Brussels pada hari Rabu.
Pernyataan mengenai kondisi penerbangan tersebut disampaikan secara bersamaan dengan momentum peluncuran paket inisiatif perjalanan Eropa yang bertajuk Satu perjalanan, satu tiket, hak penuh.
Program inisiatif baru tersebut bertujuan untuk mempermudah sistem pemesanan perjalanan maupun wisata kereta api lintas negara di seluruh kawasan Eropa.
Kebijakan penyatuan tiket tersebut juga menjadi bagian dari upaya strategis pihak Uni Eropa dalam memperkuat konektivitas transportasi di tengah badai tekanan biaya yang melanda sektor penerbangan.
Sementara itu, pihak Lufthansa Group sebelumnya telah mengumumkan rencana resminya untuk memangkas sekitar 20 ribu penerbangan jarak pendek dalam jadwal musim panas hingga bulan Oktober 2026.
Langkah pemangkasan tersebut sengaja diambil oleh pihak perusahaan guna menekan besaran biaya operasional akibat melonjaknya harga bahan bakar sejak pecahnya eskalasi konflik di Iran.
Menurut laporan dari kantor berita Anadolu, kebijakan pengurangan penerbangan tersebut diperkirakan akan menurunkan kapasitas keseluruhan kurang dari satu persen dalam ukuran Available Seat Kilometers.
Prioritas pemangkasan jadwal penerbangan tersebut terutama akan diberlakukan pada rute-rute jarak pendek yang dianggap tidak lagi menguntungkan secara bisnis, khususnya untuk jadwal penerbangan yang berasal dari Frankfurt dan Munich.
Di sisi lain, Lufthansa Group justru memiliki rencana untuk memperluas layanan penerbangan yang berangkat dari wilayah Zurich, Wina, dan Brussels sebagai bagian dari strategi optimalisasi enam hub utama maskapai di Benua Eropa.
Maskapai tersebut memperkirakan bahwa rumusan kebijakan pengurangan penerbangan ini akan mampu menghemat pemakaian lebih dari 40 ribu metrik ton bahan bakar jet di tengah rentetan kenaikan biaya energi global.
Lonjakan harga bahan bakar pesawat jet ini pada akhirnya memunculkan tantangan baru bagi industri penerbangan global setelah sebelumnya sektor transportasi tersebut baru saja mulai berjuang untuk pulih dari tekanan pandemi.
Kenaikan biaya operasional akibat melambungnya harga avtur dan tingginya ketidakpastian geopolitik secara paksa membuat pihak maskapai harus menyesuaikan kapasitas penerbangan agar tetap bisa menjaga profitabilitas bisnis perusahaannya.
Laporan: Severinus | Editor: Michael