Akui Palsukan Riset demi Jalan-jalan Gratis ke Denmark, Tiga WNI Minta Maaf ke Publik

pranusa.id May 30, 2026

FOTO: ChatGPT

JAKARTA, PRANUSA.ID – Tiga warga negara Indonesia yakni Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti akhirnya menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf kepada publik usai tertangkap basah memalsukan riset ilmiah pada sebuah konferensi internasional di Kopenhagen, Denmark.

Pengakuan dosa terkait pelanggaran fatal etika akademik tersebut disampaikan secara terbuka melalui unggahan karosel foto di akun media sosial Threads yang mengatasnamakan Rifaldy dan Tim.

Dalam keterangan tertulisnya, kelompok tersebut mengakui telah melakukan manipulasi saat berpartisipasi dalam ajang bergengsi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 yang digelar pada 17 hingga 21 Mei 2026.

Mereka secara terang-terangan membenarkan bahwa motivasi utama keikutsertaan dalam konferensi tersebut hanyalah untuk memburu bantuan dana perjalanan atau travel grant demi mendapatkan kesempatan pelesiran ke luar negeri secara gratis.

“Dengan segala kerendahan hati, kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada seluruh pihak atas polemik dan kegaduhan yang terjadi terkait aktivitas konferensi internasional yang kami lakukan,” tulis pernyataan tersebut.

Ketiga individu tersebut juga mengakui telah menyalahgunakan kecerdasan buatan secara berlebihan untuk menyusun abstrak dan presentasi termasuk mempraktikkan falsifying AI dalam pembingkaian hingga representasi data penelitian.

Permohonan maaf turut dilontarkan atas tindakan ilegal mereka yang berani mencatut sejumlah nama afiliasi institusi tanpa izin serta menggunakan nama komunitas riset independen seolah-olah sebagai sebuah lembaga resmi.

Menutup surat klarifikasi tersebut, ketiganya menyatakan penyesalan mendalam dan berjanji tidak akan pernah mengulangi tindakan memalukan yang telah mencoreng nama baik bangsa Indonesia di kancah global.

Skandal memalukan ini pertama kali terbongkar ke publik setelah seorang peneliti asal Indonesia bernama Wa Ode Dwi Daningrat mengungkap kejanggalan presentasi mereka di ajang ISPPD 2026 melalui media sosial.

Dalam menjalankan modusnya, ketiga pelaku diduga kuat saling berganti identitas saat melakukan presentasi ilmiah hanya dengan bermodalkan pergantian kerudung dan kartu nama pengenal peserta.

Kebohongan kelompok ini semakin tercium lantaran mereka berlindung di balik nama afiliasi lembaga riset fiktif yang diberi nama The IMCD BioMed Research Foundation.

Klaim lokasi penelitian yang dipresentasikan juga sangat tidak masuk akal karena mencakup wilayah Peru, Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Bangladesh, Kenya, Nepal, hingga India Utara tanpa adanya bukti keterlibatan kolaborator internasional maupun dokumen persetujuan etik.

Laporan: Severinus | Editor: Michael

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
KPK Bongkar Taktik Licik Bupati Cilacap Peras Staf RSUD demi Danai THR Eksternal Rp515 Juta
JAKARTA, PRANUSA.ID – Praktik lancung pemerasan massal yang diarsiteki oleh…
Kemkomdigi Wajibkan Pindai Wajah untuk Aktivasi Kartu SIM per 1 Juli 2026
JAKARTA, PRANUSA.ID – Kewajiban mutlak untuk menggunakan teknologi verifikasi biometrik…
Bela Program 1.098 Sapi Kurban Prabowo, Komisi II DPR RI: Tidak Ada Aturan yang Dilanggar
JAKARTA, PRANUSA.ID – Wakil Ketua Komisi II DPR RI Bahtra…
Rupiah Tembus Rp17.877, Kementerian ESDM Jamin Harga Pertalite dan Biosolar Tidak Naik
JAKARTA, PRANUSA.ID – Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus merosot…
Jalankan Instruksi Presiden, Bappenas dan Agrinas Siap Kawal Penuh Hilirisasi Sawit Berbasis Riset Kampus
JAKARTA, PRANUSA.ID – Pemerintah Republik Indonesia saat ini tengah menggencarkan…