Bedah Buku “Legislative Inaction”: Menyoroti Lemahnya Peran Legislatif di Indonesia

pranusa.id July 6, 2026

FOTO: Social Movement Institute Adakan Bedah Buku “Legislative Inaction” Dalam Hukum Pemilu

YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Social Movement Institute (SMI) menggelar kegiatan bedah buku berjudul Legislative Inaction: Kudeta Konstitusi karya Titi Anggraini di Auditorium Yayasan Badan Wakaf UII, Cik Dik Tiro, Yogyakarta, Senin (6/7/2026).

Kegiatan yang merupakan bagian dari program Akademi Republikan ini menghadirkan penulis buku Titi Anggraini, anggota Komisi III DPR RI Benny Kabur Harman, serta pakar hukum tata negara Zainal Arifin Mochtar sebagai pembicara.

Dalam pemaparannya, Titi menjelaskan bahwa istilah Legislative Inaction merujuk pada ketidakaktifan atau hilangnya fungsi konstitusional lembaga legislatif dalam mengawal demokrasi di Indonesia. Ia menyoroti fenomena di mana undang-undang pemilu justru digunakan sebagai instrumen manipulasi demi kepentingan rezim yang berkuasa.

“Hukum pemilu semestinya menjadi democracy law bagi masyarakat untuk mencapai political law, namun kenyataannya UU pemilu menjadi instrumen yang kuat untuk memanipulasi hasil pemilihan,” ujar Titi.

Titi mengkritik pola fast-track legislation atau pembentukan undang-undang secara terburu-buru tanpa kajian publik yang memadai, seperti yang terjadi pada UU Cipta Kerja. Sebagai solusi, ia mengusulkan tata kelola pemilu yang lebih independen, permanen, dan berbasis pada kepakaran.

Menanggapi gagasan tersebut, Benny Kabur Harman menyatakan keraguannya bahwa pembentukan lembaga baru akan mampu mengubah arah politik Indonesia. Menurutnya, faktor penentu utama adalah integritas orang-orang yang mengisi lembaga tersebut.

“Proses yang paling menentukan adalah isi manusianya. Solusi ini perlu dikaji kembali agar kita tidak terjebak dalam situasi yang sama,” kata Benny.

Di sisi lain, Zainal Arifin Mochtar menilai buku karya Titi tersebut sangat kuat dari sisi normatif dan etis hukum tata negara. Namun, ia menekankan perlunya mewujudkan parlemen yang sehat melalui riset berbasis aspirasi masyarakat, bukan sekadar mengikuti selera penguasa.

“Perlu mengembalikan pemilu yang proporsional untuk meminimalisir suara rakyat yang terbuang,” tambah Arifin.

Diskusi yang berakhir pada pukul 15.30 WIB tersebut diharapkan mampu memberikan wawasan baru bagi masyarakat mengenai pentingnya peran legislatif sebagai pengawal konstitusi di tengah tantangan demokrasi yang kian kompleks.

Laporan: Angga Nugroho | Editor: Arya

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Kesaksian Dosen di Sidang MK: Gaji Pokok Di Bawah UMK, Hingga Terpaksa Jualan di Car Free Day
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kisah memilukan diungkapkan oleh Imam Ahmad, seorang…
Ketua Komisi VIII DPR RI Buka Peluang RUU Pidana LGBT, Sebut Perilaku Menyimpang sebagai Ancaman Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID – Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang…
Aksi “Ibu Berisik” di Bundaran UGM: Suarakan Persoalan Inflasi hingga Pajak Mencekik
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID – Komunitas Ibu Berisik menggelar aksi damai dan…
Ribuan Pelayat Tuntut Balas Dendam ke AS dan Israel Atas Kematian Ayatollah Ali Khamenei
TEHERAN, PRANUSA.ID – Ribuan pelayat memadati upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi…
Singkirkan Australia di Piala Dunia 2026, Pelatih Mesir Dedikasikan Kemenangan untuk Palestina
DALLAS, PRANUSA.ID – Tim Nasional Mesir menorehkan sejarah baru dengan…