Berujung Rusuh, Aksi Protes Pendukung Trump Tuai Berbagai Kecaman

pranusa.id January 7, 2021

Aksi Pendukung Trump (Sumber: Tribunnews)

PRANUSA.ID– Dilansir dari Reuters, masa pendukung Trump dilaporkan memaksa masuk ke gedung Kongres, US Capitol. Mereka menggelar aksi protes dan meminta hasil pemilu 3 November yang dimenangkan secara sah oleh Joe Biden dibatalkan.

Protes tersebut dilakukan saat anggota parlemen AS sedang membahas pengesahan Joe Biden menjadi Presiden. 

Sayangnya, aksi protes tersebut berlangsung dengan rusuh. Puncak kerusuhan terjadi pada Rabu (6/1) pukul 1 siang waktu setempat, atau sekitar pukul 1 dini hari pada Kamis (7/1) di Indonesia. Ratusan pendukung Trump berhasil menumbangkan barikade kepolisian yang terpasang di sekitar Capitol bahkan meneriaki mereka sebagai pengkhianat karena mencoba menghalangi aksi massa yang terjadi.

Sekitar 90 menit kemudian para demonstran berhasil menyerbu gedung, memaksa para anggota DPR AS (House of Representatives) dan Senat AS untuk diamankan atau dievakuasi. Tak hanya itu, Wakil Presiden Mike Pence juga dievakuasi dari Capitol, di mana ia berperan untuk menghitung hasil akhir suara elektoral.

Dalam kerusuhan tersebut, satu wanita dilaporkan tertembak. Tidak jelas siapa yang melepaskan tembakan. Namun, ia dilaporkan telah meninggal dunia menurut sumber penegakan hukum setempat. 

Desakan Impeachment Terhadap Trump

Aksi rusuh tersebut menuai banyak reaksi dan kecaman. Salah satunya dari anggota Kongres asal Partai Demokrat Ilhan Omar yang meminta Presiden Amerika Serikat segera diimpeach dari kedudukannya sebagai orang nomer satu di negara tersebut.

“Kita tidak bisa membiarkan dia untuk tetap sebagai Presiden. Ini persoalan bagaimana kita menjaga Republik ini dan kita harus menepati sumpah kita terhadap negara ini,” ujar anggota kongres dari Minnesota ini via akun Twitternya.

Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa Volkan Bozkir turut bereaksi dengan mengecam kekerasan oleh massa pendukung Presiden Donald Trump di Gedung Kongres di Capitol Hill, Washington DC, Amerika Serikat pada Rabu (6/1).

“Sangat prihatin dengan kekerasan di Capitol #WashingtonDC dan gangguan proses demokrasi di negara tuan rumah PBB,” cuit mantan menteri Turki itu di Twitter.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dalam tweetnya bahkan menyebut peristiwa di Kongres AS sebagai “aib”.

“Amerika Serikat berdiri untuk demokrasi di seluruh dunia dan itu penting sekarang karena harus ada transfer kekuasaan yang damai dan tertib,” tulisnya.

Hingga saat ini, kondisi di Ibu Kota AS dilaporkan mencekam. Wali Kota Washington D.C Muriel Bowser memerintahkan jam malam dari pukul 18.00 kemarin hingga pukul 09.00 hari ini waktu setempat.

 

(Kris/Pranusa)

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Dua Prajurit TNI Penyiram Air Keras Batal Dipecat, Menteri Pigai Dorong Pengacara Andrie Yunus Ajukan Kasasi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai…
Perkuat Operasi Terpadu Karhutla Kalbar, Kemenhut Gelontorkan DAK Rp5,5 Miliar
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Pemerintah menyiapkan dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK)…
Jaga Stabilitas Harga, Bulog Pasok 110 Ribu Ton Beras ke Pasar dan Ritel Modern
JAKARTA, PRANUSA.ID — Perum Bulog menyiapakan pasokan sebanyak 110.000 ton…
AJMAN Kalbar Sebut Penanganan Kabut Asap Harus Berfokus pada Keselamatan dan Aktivitas Warga
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Ketua Pengurus Daerah (PD) Asosiasi Jurnalis Masyarakat…
Kabut Asap Meluas dan Lumpuhkan Aktivitas, AMAN Kalbar Desak Pemerintah Tetapkan Status Bencana Nasional
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Dampak bencana kabut asap akibat kebakaran hutan…