
ENDE, PRANUSA.ID — Memasuki fase transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan pascabencana gempa bumi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende berkolaborasi dengan Wahana Visi Indonesia (WVI) serta Jesuit Refuge Service (JRS) menggelar pelatihan dukungan psikososial bagi para guru.
Kegiatan pelatihan ini diselenggarakan dalam dua tahapan. Tahap pertama khusus bagi 90 guru di Kabupaten Ende yang berlangsung pada 26–27 Oktober 2026 di Aula Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Selanjutnya, tahap kedua digelar di Aula Hotel Flores Mandiri pada 28–29 Oktober 2026, yang diikuti perwakilan guru dari Kabupaten Ende serta masing-masing 10 utusan guru dari Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ngada.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende Venantius Minggu menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan respons cepat pemerintah daerah bersama para mitra dalam memulihkan kondisi kejiwaan tenaga pendidik dan peserta didik pascabencana.
“Sesuai arahan Pak Bupati dan Pak Wakil Bupati supaya bisa bekerjasama dengan berbagai mitra untuk bisa memastikan bahwa anak kita kembali bersekolah dan proses pemulihan segera dilakukan dari aspek kejiwaan,” ujar Venantius.
Venantius menambahkan, materi pelatihan difokuskan pada pemahaman dukungan psikososial darurat, deteksi dini gejala beban psikologis pada anak, hingga teknik pendampingan mental yang efektif di lingkungan sekolah.
“Harapannya kegiatan semacam ini tidak tunggu ada bencana gempa, tapi di setiap sekolah perlu desiminasi berkenaan dengan kesiapan menghadapi bencana apa saja. Sehingga bapa ibu guru, ketika terjadi bencana mereka punya pengetahuan yang memadai dalam pendampingan bagi siswa,” kata Venantius.
Sementara itu, Manager Respon Wahana Visi Indonesia Wilayah Flores Lisa Hernawati menegaskan komitmen WVI sebagai lembaga kemanusiaan yang berfokus pada pemenuhan serta perlindungan hak anak di wilayah darurat bencana.
Lisa membeberkan bahwa intervensi pemulihan pascabencana ini mencakup enam kabupaten di Pulau Flores, yakni Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.
“Kami bekerjasama dengan pemerintah daerah. Sebagai organisasi yang berfokus pada anak, kami memastikan bahwa anak-anak bisa tetap mendapatkan kehidupan yang sepenuhnya dalam kondisi darurat,” ujar Lisa.
“Guru-guru perlu diperlengkapi, karena itu kami bersama-sama melakukan pelatihan dukungan psikososial kepada guru. Diharapkan selesai ikut pelatihan ini mereka mampu untuk mengimbaskan di kelompok kerja guru dan memberikan dukungan psikososial di sekolah mereka masing-masing,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Staf Jesuit Refuge Service Veronika Purwaningsih menuturkan bahwa sinergi lintas lembaga ini penting untuk membentuk benteng perlindungan mental bagi anak-anak yang rentan terpapar krisis.
“Kolaborasi bersama antara Jesuit Refuge Servis, wahana Visi Indonesia dan Dinas pendidikan dan kebudayaan Kabupaten Ende. Tujuannya adalah supaya guru-guru bisa melakukan pendampingan bagi anak-anak ketika mengalami krisis karena bencana, karena kekerasan dari orang tua ataupun dari teman-teman,” tutur Veronika.
Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas guru sebagai pendamping utama pemulihan trauma siswa, sehingga suasana belajar-mengajar di sekolah dapat kembali berjalan secara aman, ramah anak, dan berkelanjutan.
Laporan: Marsianus | Editor: Arya