
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Komunitas Ibu Berisik menggelar aksi live painting dan pukul panci bertajuk “Asap Bukan Takdir” di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Jumat (30/10/2026).
Aksi damai yang dimulai pukul 15.30 WIB di depan Benteng Vredeburg tersebut diselenggarakan sebagai bentuk protes atas tata kelola pemerintahan Prabowo-Gibran yang dinilai tidak kompeten, maraknya pembungkaman suara kritis, serta belum seriusnya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Perwakilan Ibu Berisik, Gernatiti, membeberkan bahwa aksi kali ini melibatkan partisipasi kolaboratif berbagai elemen masyarakat serta seniman Yogyakarta untuk mengekspresikan kekecewaan publik secara visual di ruang terbuka.
“Ibu Berisik sudah melakukan aksi pukul panci mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran, namun bukannya lelah dengan aksi tersebut, bekerjasama dengan lapisan masyarakat lain justru aksi pada hari ini menghadirkan sesuatu yang berbeda, dilaksanakan di nol Km dan ikut melibatkan para seniman Jogja untuk mengambar secara langsung sebagai bukti kekecewaan mereka terhadap negara. Tema yang diambil memang tentang Karhutla namun permasalahan lain berkaitan dengan pemerintah Prabowo-Gibran juga kami sampaikan dalam aksi damai di sore hari ini,” kata Gerna.
Rangkaian acara diwarnai dengan pembentangan poster, pembagian stiker kepada pengguna jalan, pemukulan panci secara massal, hingga menyanyikan mars perjuangan Ibu Berisik.
Selain orasi dari Ibu Berisik, perwakilan Seikat Pekerja Gajah Mada (Sejagad) turut menyampaikan kritikan atas represi serta penangkapan aktivis pasca-demonstrasi Peringatan Sumpah Pemuda, sekaligus menyoroti isu kesejahteraan rakyat seperti upah murah, lonjakan harga sembako, dan kenaikan beban pajak.
Massa aksi juga menyediakan lapak membaca dan mewarnai bagi anak-anak, serta membagikan pembalut gratis sebagai bentuk penolakan terhadap rencana pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada produk sanitasi perempuan.
Aktris Siti Fauziah—pemeran Ibu Tejo dalam film Tilik—yang hadir dalam barisan massa mengungkapkan kekecewaannya terhadap tindakan represif aparat kepolisian terhadap mahasiswa dan massa aksi.
“Saya kecewa terhadap pemerintah yang melakukan tindak kekerasan kepada para mahasiswa serta massa aksi saat demonstrasi kemarin. Saya merasa kecewa terhadap pemerintah yang membebankan pajak kepada masyarakat namun pada akhirnya hasil pajak yang dibayarkan hanya dikorupsi oleh para penguasa,” tegas wanita yang akrab disapa Ozi tersebut.
Aksi damai yang mendapat dukungan dari para pengguna jalan melalui tiupan klakson dan simbolis salam tiga jari tersebut resmi berakhir secara tertib pada pukul 18.00 WIB bersamaan dengan tuntasnya proses melukis kain di Titik Nol Kilometer.
Laporan: Angga R.N | Editor: Arya