
JAKARTA, PRANUSA.ID — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengutuk keras aksi Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) yang membawa simbol salib merah dalam unjuk rasa besar-besaran di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Pigai menegaskan bahwa simbol keagamaan yang sakral tidak semestinya ditarik ke dalam ranah politik praktis.
Sebagai senior di lingkungan organisasi mahasiswa Katolik, Pigai menyampaikan peringatan keras bahwa tindakan mempolitisasi simbol agama justru akan merugikan masa depan para kader itu sendiri.
“Demi Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria sebagai senior, saya yakin kalian (siapapun yunior2 dimana saja) tidak akan jadi apa2 di negeri ini,” ujar Pigai melalui instagram resminya, dilansir Jumat (30/10/2026).
Menurut Pigai, makna hakiki dari memikul salib adalah untuk membela kaum miskin dan tertindas (option for the poor), bukan dipakai sebagai alat manuver politik yang menolak program pro-rakyat milik pemerintah.
Ia menilai pengusungan salib dalam aksi tersebut justru terkesan menentang deretan program kesejahteraan masyarakat yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
“Salib yang dipukul untuk itu seperti sedang menentang Sekolah Rakyat, Makan Gratis, Koperasi Merah Putih, Cek Kesehatan Gratis, Kampung Nelayan, dan Rumah Rakyat yang merupakan perintah gereja ‘option for the poor’. Membela dan memihak pada orang miskin dan kaum papa,” tegas Pigai.
Ia mengimbau para mahasiswa untuk meneladani rekam jejak perjuangan kemanusiaan yang murni tanpa ditunggangi kepentingan kelompok, mafioso, atau partai politik tertentu.
“Ikuti apa yang saya contohkan selama ini yaitu membela kemanusiaan, membela orang miskin dan kaum papa, hasilnya saya menjadi Menteri di bulan Rosario 21 Oktober 2024. Sedangkan kalian yang jual salib Kristus, jual gereja, Ngaku2 mewakili Katolik tidak jadi apa2 hari ini,” sindirnya.
Pigai juga membeberkan bahwa terdapat tujuh jajaran menteri dan wakil menteri berlatar belakang Katolik di Kabinet Merah Putih yang memiliki kesamaan visi untuk bekerja nyata demi rakyat kecil.
“Di kabinet ini ada 7 orang yang jadi menteri dan wakil menteri dan semua satu pikiran dengan Saya yakni bekerja untuk kaum papa bukan untuk partai politik, mafia, penguasa dan kelompok kepentingan,” kata Pigai.
Mantan Komisioner Komnas HAM itu lantas meminta para yuniornya untuk belajar dari sejarah pimpinan terdahulu dan tidak bersikap arogan dalam mengatasnamakan simbol keagamaan.
“Waktu mereka pimpin kalian jadi apa? Jadi masuk kotak sampah (J Plate dan Roy Rening). Sekarang kalian ikut mereka lagi. Mikirr ade2 Salib itu berat. Jangan sombong dan arogan mainkan salib Kristus. Nasihat dari kk,” pungkasnya.
Laporan: Severinus | Editor: Arya