Pilih Al-Quran atau Pancasila? Romo Magnis: Pertanyaan yang Tidak Pancasilais

pranusa.id June 19, 2021

Romo Magnis Suseno.

PRANUSA.ID– Budayawan sekaligus rohaniwan Katolik, Franz Magnis Suseno mengaku bingung dengan tes wawasan kebangsaan (TWK) yang ditujukan kepada KPK. Salah satunya pada pertanyaan memilih Al-Qur’an atau Pancasila. 

Hal tersebut diungkapkannya dalam webinar dengan tema Pancasila: Tandingan Agama atau Etika Kebangsaan? yang digelar pada Sabtu, 19 Juni 2021.

“Misalnya, saya ditanya pilih ajaran Katolik atau Pancasila, itu pertanyaan apa?” kata pria kelahiran Polandia 85 tahun yang lalu tersebut, dikutip Pranusa dari Antara.

Menurut pria yang biasanya dipanggil Romo Magnis ini, pertanyaan seperti itu justru berersiko membuat kesetiaan warga Indonesia terhadap Pancasila memudar. Hal tersebut dikarenakan pertanyaan tersebut memberi kesan bahwa salah satu diantara pilihan tersebut lebih baik.

Tak hanya itu, Romo Magnis juga mengatakan bahwa pembuat pertanyaan memilih agama atau Pancasila tersebut tidak memiliki sifat Pancasilais.

“Jadi, yang membuat pertanyaan ini sendiri sebenarnya tidak memiliki sifat Pancasilais,” kata Romo Magnis.

Tak sampai di situ, menurutnya pertanyaan seperti ini dapat berbahaya bila ditujukan terhadap umat Islam sehingga perlu dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Romo Magnis mengatakan bahwa tujuan lahirnya Pancasila bukan dibuat untuk menyaingi agama manapun. Ke depan, ia berharap tidak pernah ada lagi pertanyaan-pertanyaan memilih Pancasila atau agama maupun kitab suci.

“Oleh karena itu, saya harap tidak pernah ada lagi pertanyaan-pertanyaan memilih Pancasila atau agama maupun kitab suci,” katanya.

Dirinya juga meminta kepada masyarakat untuk tidak melebih-lebihkan Pancasila, apalagi bila sudah mengarah pada hal politis. Menurutnya bila masyarakat melebih-lebihkan Pancasila maka akan kontraproduktif karena meminta seseorang memilih Pancasila atau agama.

Untuk menjadi orang Indonesia, sambungnya, setiap orang tidak perlu melepaskan identitasnya masing-masing apakah itu suku, apalagi mengkompromikan agama atau keyakinan. Sebagai manusia, kata dia, setiap orang memiliki keterikatan sosial kepada keluarga, kampung halaman, negara, dan tentunya pada agama.

 

Laporan: Bagas R

Editor: Jessica C. Ivanny

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Rasmidi: Berita Kalbar Jangan Hanya Muncul di Nasional Saat Ada Kejadian Luar Biasa
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Barat (Kalbar),…
Kawal RUU Penyiaran, KPID Kalbar Dorong Aspirasi Media Masuk Pembahasan
PONTIANAK, PRANUSA.ID– Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran menjadi sorotan dalam Focus…
Jenguk Korban Keracunan MBG di Batang, Wapres Gibran Minta Investigasi Dibuka Transparan
BATANG, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Gibran Rakabuming meminta proses investigasi…
PP PMKRI Desak Kepolisian Buka Penyelidikan Pidana Kasus Fasilitas Mewah Lapas Cibinong
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia…
Kejanggalan 13 Rumah di Lapas Cibinong: Pembangunan Tak Tercatat sebagai Aset Milik Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pembangunan 13 unit rumah di kawasan Lapas…