
SIKKA, PRANUSA.ID — Sebanyak sepuluh ribu jiwa warga yang mendiami Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) harus bertahan hidup di tengah krisis air bersih yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Kondisi pulau terpencil ber-topografi pegunungan tersebut membuat warga kesulitan mengakses air bersih akibat ketiadaan sumber mata air di wilayah mereka.
Bonefasius Pio (55), warga RT 06/RW 02 Dusun Cawalo, Desa Rokirole, membeberkan bahwa warga terpaksa mengandalkan curahan air hujan untuk memenuhi kebutuhan mandi dan mencuci sehari-hari.
“Kami tidak ada mata air, jadi dari dulu pakai air hujan untuk mandi, cuci yang ditampung dalam bak penampung. Kalau untuk minum kami pakai air uap dari hasil penyulingan dari malam sampai pagi,” ujar Bonefasius Pio pada Rabu (16/9/2026).
Masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan nelayan ini membangun bak penampung berukuran 3 × 5,5 meter di area depan maupun belakang rumah guna menampung air hujan saat musim penghujan tiba.
Bonefasius menambahkan bahwa volume air hujan yang tertampung penuh di dalam bak sejatinya cukup untuk kebutuhan satu keluarga selama setahun, kecuali jika terdapat agenda hajatan atau kedatangan tamu.
“Bak ukuran 3 × 5,5 meter untuk tampung air hujan, itu bisa pakai selama satu tahun kalau dipakai sendiri dalam rumah. Tapi, saya banyak tamu, penggunaan air banyak jadi sekarang kekurangan air,” tambahnya.
Guna mengantisipasi kerusakan sarana, pemerintah setempat rutin mengalokasikan anggaran tahunan untuk renovasi bak serta menyalurkan bantuan tandon air berkapasitas 1.100 liter.
Meski demikian, apabila kondisi kelangkaan air kian terdesak, masyarakat setempat memilih bergotong royong secara swadaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih bersama.
Laporan: Severinus | Editor: Michael