Relawan: Kematian Akibat Covid 4 Kali Lebih Banyak dari Data Resmi Pemerintah

pranusa.id September 5, 2020

Ilustrasi virus corona: jawapos.com

PRANUSA.ID — Inisiator Koalisi Warga Lapor Covid-19 Irma Hidayana menyatakan pihaknya telah mengumpulkan data jumlah kematian akibat virus corona (Covid-19).

Namun, dia mengungkap data yang dicatat pihaknya berbeda dengan apa yang dilaporkan pemerintah.

“Sejak bulan Mei dari 514 kabupaten kota menunjukkan, jumlah kematian terkait Covid-19 dari minggu ke minggu selalu jauh lebih banyak dari laporan resmi pemerintah pusat,” kata Irma dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2020).

Perbedaan itu bahkan berkisar 2,5 hingga 4,2 kali lipat lebih tinggi dari data kematian pemerintah pusat.

“Berkisar antara lebih dari 2,5 – 4,2 kali lipat dari angka kematian terkonfirmasi positif melalui tes molekuler PCR,” lanjut dia.

Seperti diketahui, pemerintah pusat baru saja merilis data terbaru yang mencatat sebanyak 7.940 orang yang meninggal dunia akibat Covid-19 pada Sabtu (5/9) di Indonesia.

Menurutnya, pemerintah dalam melaporkan data kematian masih belum mengacu pada pedoman Badan Kesehatan Dunia (WHO), khususnya soal penyertaan seluruh data terduga dan terkonfirmasi Covid-19.

Selain itu, Irma menyoroti soal belum adanya transparansi data statistik Covid-19 dari pemerintah ke publik, termasuk soal jumlah tes berbasis PCR di tiap kabupaten/kota.

“Kriteria zona hijau tanpa dilengkapi kecukupan jumlah dan cakupan tes perlu dievaluasi, karena dapat memberikan rasa nyaman semu dan menurunkan kewaspadaan masyarakat,” jelasnya.

Irma juga meminta pemerintah untuk meninjau ulang soal pembukaan aktivitas sekolah dan ekonomi di saat positivity rate dan kasus harian masih terus meningkat.

“Ini berisiko memicu penularan lebih luas dan lebih cepat, termasuk kepada anak-anak dan ekosistem pendidikan. Kami harap pemerintah meninjau ulang pembukaan sekolah di zona manapun,” tukasnya.

Bukan hanya sekolah, koalisi juga mengkhawatirkan adanya kecenderungan kluster Covid-19 di perkantoran yang ditutupi oleh pengelola perkantoran atau gedung.

Hal itu tentu membahayakan kesehatan para pekerja. Selain karena dapat tertular, mereka juga dapat menularkan virus corona kepada orang lain.

“Oleh karena itu, kami mengharapkan adanya transparansi informasi dan jaminan keselamatan pekerja,” pintanya.

Irma mengungkapkan bahwa relawan Lapor Covid-19 juga telah mengumpulkan laporan dari chatbot warga. Dari laporan itu, masih banyak masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan.

Mereka tidak menggunakan masker, tidak menjaga jarak, serta bekerumun dalam keramaian sebagai laporan terbanyak yang diterima.

Sementara itu, berdasarkan survei yang dilakukan Lapor Covid-19 kepada tenaga kesehatan dan masyarakat umum, lebih dari separuhnya mengalami stigma berupa ejekan, penolakan, bahkan pengusiran.

“Oleh karena itu, kami harap semua pihak, utamanya pemerintah untuk lebih memperhatikan hal ini, karena stigma bisa memperdalam dampak pandemi,” pungkas Irma.

(Cornelia)

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Bantu Korban Gempa Ende, Polres Ende Salurkan 100 Paket Sembako Kapolda NTT ke Kecamatan Nangapanda
ENDE, PRANUSA.ID — Jajaran Polres Ende Polda Nusa Tenggara Timur…
Refleksi HUT RI ke-81, AMAN Kalbar Sebut Kemerdekaan Belum Dirasakan Sepenuhnya oleh Masyarakat Adat
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Pengurus Harian Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara…
Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 Berujung Ricuh di Masjid Raya Baiturrahman Akibat Pengibaran Bendera Bulan Bintang
BANDA ACEH, PRANUSA.ID — Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 yang…
Gempa Magnitudo 7,7 Guncang NTT, Presiden Prabowo Instruksikan Penanganan Tanggap Darurat Cepat
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan jajaran…
Gempa Bumi Guncang Ende, Polres Bersama Forkopimda Mendirikan Tenda Darurat di RSUD dan Mapolres
ENDE, PRANUSA.ID — Menanggapi bencana gempa bumi yang mengguncang wilayah…