
SLEMAN, PRANUSA.ID — Semut Api Media bekerja sama dengan toko buku Multitude menggelar peluncuran dan diskusi zine terbitan Samzine Vol. 3 bertajuk “Menyoal Pesta Babi” di Angkringan Toko Buku Multitude, Sleman, Jumat (21/8/2026) malam.
Buletin terbitan Semut Api yang berfokus mengulas isu-isu sosial-politik terkini tersebut ditulis oleh dua pemuda asal Papua, Ferdinando Septy Yokit dan Benediktus Fatubun (Benfa), sebagai bentuk respons serta kritik metodologis terhadap film dokumenter “Pesta Babi” yang sempat viral.
Jalannya diskusi dipandu oleh moderator Rere dari Semut Api Media dengan menghadirkan dua pembicara utama, yakni Astrid Reza dari Gilda Artsi dan Fajar perwakilan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP).
Sebelum memasuki pemaparan materi, Rere memberikan ruang bagi para peserta untuk menyampaikan pandangan. Salah satu peserta diskusi, Dhika dari Universitas Sanata Dharma, menilai bahwa meski film dokumenter tersebut berhasil membangun solidaritas kelas dan gambaran kolonialisme, namun karya tersebut dinilai belum mampu mendorong gerakan nyata pasca-pemutaran.
“Seharusnya pasca film ini diputar harus ada tindak lanjut untuk membentuk solidaritas berkesadaran yang dibangun oleh masyarakat Papua sendiri,” kata Dhika dalam ruang diskusi.
Pembicara dari Aliansi Mahasiswa Papua, Fajar, menguatkan gambaran realitas kekerasan yang dialami masyarakat Papua sebagaimana ditampilkan dalam film. Menurutnya, pemenuhan kesejahteraan rakyat sering kali terhambat oleh kepentingan kapitalisme serta belum diakuinya hukum masyarakat adat secara menyeluruh oleh pemerintah.
Sementara itu, Astrid Reza membandingkan dinamika perjuangan dan penanganan kasus kekerasan di berbagai wilayah seperti Papua, Aceh, serta Timor Leste pada masa lalu. Ia menekankan pentingnya ruang-ruang diskusi untuk menjaga jejaring solidaritas serta merawat ingatan publik atas berbagai bentuk tindak kekerasan.
Di sisi lain, penulis Samzine, Ferdinando dan Benfa, menjelaskan orientasi dasar penerbitan zine tersebut. Ferdinando menegaskan bahwa pesan dalam film seharusnya menggerakkan masyarakat untuk memperkuat advokasi adat serta melestarikan bahasa dan budaya suku Muyu.
Adapun Benfa menyoroti aspek akademis dan kode etik jurnalistik dalam proses pengumpulan data film yang dinilainya mengalami pereduksian fakta di beberapa bagian.
“Maka karena saya menghargai adanya film tersebut, dibuatlah zine ini sebagai bentuk kritik kami terhadap film yang sudah dibuat,” ujar Benfa.
Diskusi yang berlangsung hingga pukul 22.00 WIB tersebut diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif bersama para peserta yang hadir sebelum ditutup dengan sesi foto bersama.
Laporan: Angga R.N | Editor: Michael